Selasa, 23 April 2013

Bumi Cinta ( Part 36 )

Bumi Cinta
Karya : Habiburrahman El Shirazy

DILARANG COPY PASTE UNTUK TUJUAN KOMERSIAL !!!

36. Hidup Lebih Manusiawi

Tidak terasa sudah dua bulan lebih Ayyas tinggal di Aptekarsky Pereulok. Sejak tinggal di Aptekarsky itulah Ayyas bisa merasakan kenyamanan hidup di Moskwa. Ia bisa merasakan indahnya salju yang turun, atau pohon-pohon bereozka yang bergoyang mengagungkan asma Allah. Ia juga benar-benar menikmati hangatnya minum teh sambil membaca buku di sofa tanpa khawatir melihat aurat perempuan.
Bersama Pak Joko yang rajin puasa sunnah, Ayyas benar-benar bisa hidup tenang dalam suasana penuh keimanan dan kedekatan dengan Sang Khalik. Di dalam apartemen tua yang sederhana di Aptekarsky, tak ada lagi godaan perempuan yang sedemikian dekatnya seperti saat tinggal bersama Linor dan Yelena.
Di Aptekarsky ia merasa lebih nyaman. Bersama Pak Joko ia saling menolong dalam kebaikan dan kesabaran. Shalat terjaga tepat pada waktunya.
Setiap malam selalu bangun dan shalat Tahajud bersama. Dan selesai shalat Subuh ia mengaji hadis-hadis Nabi bersama Pak Joko yang haus agama memang meminta dijelaskan satu hadis dari kumpulan hadis Arbdin Nawaivi setiap pagi.
Tak terasa hadis Arba'in Nawawi sudah dikhatamkan. Dan kini Ayyas menjelaskan hadis-hadis yang ia pilih dari kitab Riyadhush Shalihin.
Ayyas tidak membawa kitab hadis itu tetapi file kitab itu ada di dalam laptopnya bersama dengan ribuan kitab penting lainnya. Ketika menjelaskan
satu hadis, Ayyas membacanya lewat laptop. Kitab itu sudah tersimpan dalam bentuk digital, bukan lagi tertulis di dalam lembaran kertas. Ayyas tidak lagi merasa asing di Moskwa. Ia seolah telah menjadi penduduk kota Moskwa
yang sibuk dengan urusannya tanpa tekanan dari siapapun juga. Ayyas sibuk dengan kegiatannya siang dan malam, baik kegiatan untuk dirinya maupun untuk orang lain. Musim dingin tidak lagi ia rasakan sebagai penghalang untuk melakukan aktivitas yang luas.
Siang hari Ayyas lebih suka mengadakan penelitian di perpustakaan negara, meskipun sesekali tetap ke kampus MG U dan berdiskusi seperlunya dengan Doktor Anastasia Palazzo.
Tak jarang Ayyas ada di masjid Prospek Mira berdiskusi dengan Imam Hasan Sadulayev tentang banyak masalah. Dari Imam Hasan Sadulayev ia banyak mendapatkan data-data penting tentang kehidupan umat Islam yang tidak ia
temukan di perpustakan juga tidak ia dapatkan ketika berdiskusi dengan Doktor Anastasia.
Kini, Ayyas jauh lebih merasa tenang dan tenteram dibandingkan ketika hidup satu rumah dengan Linor dan Yelena di Smolenskaya. Yang lebih membuat Ayyas semakin krasan tinggal di Moskwa, kini Ayyas merasa menemukan sesuatu yang membahagiakan hatinya. Bahwa ternyata di ibu kota Rusia yang berpenduduk dua belas juta jiwa, lebih dari satu juta penduduknya adalah Muslim. Siapa tahu bahwa di kota yang pernah menjadi pusat kaum komunis itu ada hamba-hamba Allah yang masih memegang teguh kalimat syahadat.
Dari satu juta lebih itu separonya berasal dari suku bangsa Tatar yang telah berabad-abad bermukim di Moskwa. Selebihnya adalah para pendatang dari selatan yang rata-rata pedagang dan buruh kasar, menambah banyak komunitas Muslim Moskwa.
Mereka adalah suku bangsa dari Asia Tengah dan Kausasus. Suku bangsa dari Asia Tengah meliputi Kazakh, Uzbek, Kirgiz, Turkmen dan Tajik. Sedangkan dari Kausasus meliputi Chechnya, Ingusetia, Dagestan, dan Azerbaijan. Mereka dengan mudah dijumpai di
pasar-pasar tradisional seperti Donilovsi,
Kievskaya, dan Tyopli Stan.
Ayyas mengenal baik beberapa di antara mereka. Selain Imam Hasan Sadulayev, salah satu kenalan Ayyas yang langsung terasa akrab bagai keluarga sendiri adalah keluarga Aliyev dari Chechnya. Mereka tinggal di gedung sebelah. Aliyev sudah berumur enam puluh tahun lebih, tetapi masih kelihatan segar dan tidak ada tanda-tanda pikun. Aliyev tinggal bersama istrinya yang juga sudah tua bernama, Zenab dan dua orang cucunya yang sudah yatim piatu bernama Shamil dan Sarah. Shamil berumur kira-kira dua belas tahun, sedangkan Sarah berumur kira-kira Sembilan tahun. Mereka berdua sudah yatim piatu. Kedua orangtua Shamil dan Sarah gugur saat Rusia membumihanguskan kota Grozni, ibu kota Chechnya.
"Rumah kami di Grozni sudah hancur lebur. Karenanya kami mengadu nasib ke sini." Kata Aliyev suatu ketika kepada Ayyas. Mendengar perkataan itu Ayyas sebenarnya ingin bertanya kenapa memilih mengadu nasib di Moskwa,
kenapa tidak memilih tempat lain yang lebih ramah kepada kaum Muslimin, tetapi Ayyas urung menanyakan. Ia khawatir kalau pertanyaannya itu menyinggung perasaan Aliyev. Ia percaya, Aliyev pasti sudah memiliki pertimbangan yang matang.
Ayyas mengenal keluarga Aliyev sejak awal-awal tinggal di Aptekarsky. Pak jokolah yang mengenalkan. Pak Joko minta agar Ayyas sedikit memberikan sentuhan kepada keluarga Aliyev.
"Meskipun mengaku Islam dan berakar keluarga Islam, tetapi mereka tidak bisa membaca Al-Quran. Mereka bahkan belum mengerjakan shalat lengkap lima kali sehari. Ajarilah mereka membaca Al-Quran dan cara beribadah yang benar."
Kata Pak Joko selesai mengunjungi keluarga Aliyev bersama Ayyas. Saat itu adalah hari kedua Ayyas tinggal bersama Pak Joko. Keluarga Aliyev adalah tetangga Pak Joko yang dekat secara emosional.
Sejak itu Ayyas dekat dengan mereka. Shamil dan Sarah sangat antusias mendengar penjelasan Ayyas tentang Islam. Mereka berdua sangat bersemangat belajar membaca Al-Quran kepada Ayyas. Aliyev sangat senang kedua cucunya bisa belajar dengan tanpa membayar sepeser pun kepada Ayyas.
Setiap malam, setelah shalat Isya' Ayyas menyempatkan diri ke rumah Aliyev untuk mengajari Shamil dan Sarah bagaimana membaca Al-Quran dan bagaimana shalat dengan benar. Aliyev mengakui, dirinya tidak bisa membaca Al-Quran. Aliyev pernah bercerita, saat komunis berkuasa segala bentuk aktivitas keagamaan dilarang. Masjid-masjid ditutup dijadikan gudang. Madrasah dirobohkan. Al-Quran tidak boleh diajarkan. Orang-orang menurunkan Islam kepada anaknya dengan cara sembunyi-sembunyi, tidak ada yang berani terang-terangan. Jika ketahuan shalat, membaca Al-Quran dan aktivitas keagamaan lainnya, maka bisa dipastikan nyawanya melayang diterjang peluru tajam.
Para orangtua yang ingin anak-anaknya tetap Islam, mengajarkan membaca Al-Quran dengan bekal hafalan yang melekat di kepala. Tidak ada buku, tidak ada catatan. Semua lewat lisan. Para orangtua menyampaikan secara lisan di tempat yang terlindung dan tersembunyi, anak-anak mereka mendengarkan dan diminta untuk menghafal apa yang didengar.
Aliyev pernah berkata,
"Selama ini kami shalat dan berdoa hanya berdasarkan hafalan turun temurun. Kami hanya mengingatnya setelah mendengarnya, bukan karena membaca tulisan Arab langsung. Karena itu mungkin sekali terjadi kesalahan dalam bacaan kami. Untuk itu saya sangat berterima kasih kepada Tuan, karena telah bersedia mengajar kedua cucu saya. Saya berharap mereka berdua bisa memahami Islam jauh lebih baik dari saya."
Ayyas bertekad kuat, ia harus meninggalkan jejak amal saleh di Moskwa. Ia ingin meninggalkan bekas baik pada Shamil dan Sarah. Karenanya ia bertekad tidak akan meninggalkan Moskwa sebelum kedua anak Chechnya itu bisa membaca Al-Quran dengan baik, memahami akidah dengan benar, dan mampu menjalankan ibadah sesuai dengan tuntunan Baginda Nabi Saw.
Sebenarnya, jika ia mengingat rencana awal, keberadaannya di Moskwa tinggal tiga minggu lagi. Akan tetapi demi mengingat keluarga Aliyev, terutama Shamil dan Sarah, ia memutuskan memperpanjang keberadaannya di Moskwa dua bulan lagi.
Ketika musim semi terbit ia akan meninggalkan Moskwa. Mungkin hanya beberapa hari saja ia akan merasakan musim semi di Moskwa.
Keputusannya itu ia sampaikan kepada Doktor Anastasia Palazzo. Seketika, doktor muda kepercayaan Prof. Dr. Abramov Tomskii itu menyambutnya
dengan wajah berseri. Kepada Ayyas, Anastasia menjanjikan akan mengajaknya ke danau Limen, tak jauh dari tempat kelahirannya di daerah
Novgorod. Ayyas tidak mengiyakan, juga tidak menolak ajakan Doktor Anastasia itu.
Malam itu, Ayyas baru pulang dari mengajar Shamil dan Sarah membaca Al-Quran. Dua cucu Aliyev sudah mulai bisa membaca surat-surat pendek meskipun dengan terbata. Shamil dengan bangga menyetor hafalan surat Al-Kaafiruun. Sementara Sarah tak mau kalah dengan kakaknya, ia menyetor hafalan surat Al-Ikhlas. Ayyas bahagia dengan kemajuan mereka berdua. Ia berharap ketika nanti meninggalkan Moskwa mereka telah bisa membaca Al-Quran dengan mandiri lengkap dengan tajwidnya. Dan ia berharap mereka berdua akan bisa mengajari teman-teman mereka yang ingin bisa membaca Al-Quran dengan baik dan benar.
Pak Joko telah menunggu Ayyas untuk makan malam bersama. Malam itu memang giliran Pak Joko yang menyiapkan makan malam. Pak Joko menyiapkan nasi, ikan tuna yang ditumis dengan lombok hijau. Serta telur dadar. Ayyas makan dengan lahap. Ketika mereka tengah asyik menyantap hidangan, tiba-tiba bel berbunyi.
Ayyas menghentikan makannya dan beranjak menuju pintu. Begitu pintu dibuka, nampaklah sosok anak muda yang tidak asing baginya. Ayyas sangat terkejut melihat sosok gemuk berkaca mata yang ada di hadapannya.
"Devid! Masya Allah, kau dari mana? Bagaimana kau tahu aku ada di sini?" Sapa Ayyas
sambil maju memeluk sahabat lamanya.
"Aku dari tempat Yelena. Dari dia aku tahu kau ada di sini bersama Pak Joko. Sebenarnya sudah lama aku mendengar kau pindah dari Smolenskaya ke sini. Tetapi aku belum bisa mengunjungimu. Aku banyak kerjaan di kampus. Baru hari ini aku bisa kemari." Jawab Devid dengan wajah berseri.
"O begitu. Ayo masuk. Kebetulan kita baru makan malam."
"Aku sudah kenyang. Tadi Yelena memaksa aku makan malam di sana. Perempuan tua yang bersama Yelena itu menghidangkan kentang rebus, sup ikan lecsh, roti hitam, dan keju putih asin, serta segelas teh panas."
"Dari Smolenskaya ke Baumanskaya tidak dekat. Sup yang kau makan itu pasti sudah menguap. Ayolah. Yang masak Pak Joko sedap sekali. Nasi dengan ikan tuna yang ditumis dengan lombok hijau. Ayolah."
"Aku tak bisa menolak kalau kau sudah memaksa."
Mereka berdua masuk dan langsung ke meja makan. Ayyas mengenalkan Devid kepada Pak Joko. Pak Joko menyambut Devid dengan senyum mengembang.
"Rasanya saya tidak asing dengan wajah kamu." Sapa Pak Joko.
"Saya sudah mengenal Pak Joko, hanya Pak Joko mungkin belum mengenal saya dengan baik. Kita memang sudah beberapa kali bertemu di KBRI, hanya saja saat itu urusan saya tidak dengan Pak Joko, tetapi dengan bagian konsuler atau pendidikan KBRI."
"Jadi kau sudah lama di Moskwa."
"Saya tinggal di St. Petersburg dan kuliah di sana."
"O bagus. Ayo makan malam dulu."
"Ayo Dev, tidak usah malu." Timpal Ayyas menguatkan ajakan Pak Joko.
"Baik."
Devid mengambil nasi dan ikan tuna tumis lombok hijau. Mereka bertiga makan malam dengan lahap penuh kekeluargaan. Ayyas merasa bahagia mendapat kunjungan teman lamanya. Selesai makan Ayyas mengajak Devid beristirahat dan berbincang-bincang di kamarnya. Cukup lama mereka ngobrol, banyak hal yang mereka bicarakan. Termasuk kegundahan Devid dengan cara hidup bebasnya selama ini.
"Saat segala keinginan nafsu aku penuhi, jiwaku terasa semakin kering. Aku harus bagaimana Yas?" Keluh Devid.
"Kau bukan orang bodoh Dev. Kau tahu apa yang harus kau lakukan. Kau juga tahu apa yang menjadi sebab tenteramnya jiwamu. Apa aku harus menceramahimu? Tanyakan pada nuranimu paling dalam, kau akan mendapatkan jawaban dari kebutuhan jiwamu sekarang."
Devid menginap di kamar Ayyas. Tempat tidur yang sempit itu digunakan tidur untuk dua orang. Sepertiga malam terakhir Ayyas bangun, seperti biasa untuk shalat malam bersama Pak Joko. Mereka shalat di ruang tamu. Ayyas yang menjadi imam.
Sayup-sayup Devid mendengar suara Ayyas membaca Al-Quran dalam shalatnya. Ia menikmati suara itu. Sudah lama sekali ia tidak merasakan suasana tenang seperti itu. Dulu ketika masih kecil, saat ia masih tinggal satu
rumah dengan kakeknya yang rajin ke masjid, ia sering mendengar suara kakeknya membaca Al-Quran di tengah malam. Ia teringat suasana itu.
Pagi harinya Devid berkata kepada Ayyas,
"Kenapa kau tidak membangunkan aku untuk shalat tadi malam, juga kenapa kau tidak membangunkan aku untuk shalat Subuh?"
"Apa aku tidak salah dengar Dev?"
"Tidak. Apa salahnya kau membangunkan aku dan mengajakku shalat?"
Ayyas tersentak. Devid benar, seharusnya memang ia membangunkan Devid untuk shalat, terutama shalat Subuh. Meskipun ia mengenal Devid yang mengaku hidup bebas dan pernah mengaku atheis, tetapi dulu saat masih di SMP Devid dan keluarganya tertulis di KTP beragama Islam. Kenapa ia tidak mengingatkan Devid untuk kembali ke jalan yang lurus. Kenapa ia hanya
berbaik sangka bahwa Devid adalah anak cerdas yang bisa berpikir sendiri dan menemukan jalan lurus sendiri? Kenapa ia tidak berpikir bahwa sahabatnya itu perlu dibantu untuk menemukan jalan yang lurus?
"Mungkin aku harus kembali shalat agar jiwaku tidak kering kerontang." Gumam Devid dengan mata menerawang kosong.
"Shalat memang salah satu nutrisi jiwa paling penting." Sahut Ayyas.
"Kalau begitu ajarilah aku shalat."
"Apakah kau sudah benar-benar lupa bagaimana caranya shalat?"
"Ya aku sudah lupa. Sejak SMA aku sudah meninggalkan shalat. Aku bahkan hampir lupa bahwa aku ini masih tertulis beragama Islam, meskipun akhir-akhir ini aku tidak percaya kepada Tuhan. Kalau aku shalat berarti aku harus
percaya kepada Tuhan ya?"
Airmata Ayyas meleleh mendengar perkataan sahabatnya itu. Betapa kacaunya cara berpikir sahabatnya itu. Sahabatnya itu benar-benar telah tersesat sangat jauh. Sahabatnya itu tidak hanya harus belajar shalat, sebelum itu ia harus belajar mengucapkan kalimat syahadat. Ia harus kembali mengikrarkan kalimat syahadat, tanda bahwa ia telah kembali masuk Islam. Sebab mengingkari adanya Tuhan adalah bentuk kekafiran yang keluar dari ajaran Islam.
"Sebelum belajar shalat, kau harus belajar mengucapkan kalimat syahadat. Kau harus bersyahadat lagi, masuk Islam lagi. Pengingkaranmu akan adanya Tuhan telah mengeluarkan kamu dari Islam. Itulah yang menyebabkan aku selama ini tidak pernah mengajakmu shalat. Maaf, aku merasa kau tidak lagi seorang Muslim. Dan aku berusaha menghormati jalan hidup yang Kau pilih."
"Ternyata aku tidak menemukan kebahagiaan jiwa dalam jalan yang aku lalui selama ini. Aku seperti seorang pengembara di tengah padang pasir mahaluas yang tidak tahu aku harus ke mana. Aku merasa tidak tahu jalan. Aku berjalan
asal jalan. Aku perlu petunjuk. Aku perlu peta yang bisa membawaku ke tempat yang seharusnya aku tuju. Ketika tadi malam sayup-sayup aku mendengar kau membaca Al-Quran dalam shalatmu, jiwaku seperti tertarik ke sana. Aku teringat masa kecilku saat mendengar kakek membaca Al-Quran malam-malam. Kakek Nampak begitu bahagia dengan jalan hidup yang ditempuhnya. Mungkin itu jalan yang harus aku tempuh agar jiwaku menemukan apa yang dicarinya."
"Tinggallah di sini sementara waktu selama kau merasa perlu. Kau tidak perlu belajar. Kau dulu pernah belajar membaca Al-Quran dan shalat. Kau hanya perlu membuka kembali ingatanmu yang tertutupi oleh kerak-kerak nafsumu. Begitu ingatanmu akan shalat itu terbuka, kau akan bisa melakukannya. Sambil berusaha membuka ingatanmu perlahan-lahan, kau akan belajar mengucapkan kalimat syahadat. Kau harus menghafalnya, mengakrabinya, menghayatinya, dan menjadikannya bagian dari aliran darahmu. Itu jika kau ingin bisa hidup bahagia seperti kakekmu."
"Baiklah aku ikuti saranmu. Aku sudah benar-benar bosan dengan cara hidupku yang serba bebas. Aku ingin hidup yang membahagiakan jiwa."
Pagi itu juga Ayyas membimbing sahabatnya itu mengucapkan dua kalimat syahadat disaksikan oleh Pak Joko. Sejak hari itu Devid tinggal bersama Ayyas. Setelah membaca kalimat syahadat Ayyas langsung mengenalkan Devid
kepada Imam Hasan Sadulayev.
Kepada Imam Hasan, Ayyas menjelaskan semuanya tentang sahabatnya Devid. Ayyas meminta kepada Imam Hasan agar berkenan membimbing sahabatnya itu. Dengan begitu, ketika nanti Ayyas pulang, Devid masih memiliki tempat untuk belajar dan meminta pendapat. Dan jika imannya goyang, Imam Hasan Sadulaye  akan bisa mengukuhkannya.
Ayyas merasa Devid akan memerlukan proses yang panjang itu sampai pada taraf memahami Islam dengan baik dan benar. Waktu satu minggu tidak akan cukup bagi Devid untuk mendapatkan kebahagiaan jiwa yang dicarinya. Ayyas merasa hanya mampu mengantarkan Devid di tepi jalan yang lurus, selanjutnya Devid sendirilah yang harus berusaha dan berikhtiar untuk melanjutkan perjalanan sampai di tujuan yang sebenarnya.
Akhirnya, setiap malam Devid ikut shalat malam, ikut kajian hadis setiap pagi dan setiap menjelang tidur, Ayyas menjelaskan makna kalimat syahadat sambil tiduran selama tak lebih dari tujuh menit. Dan siang hari ketika Ayyas
harus pergi ke perpustakaan, ia meminta kepada Devid untuk pergi ke masjd Prospek Mira menemui Imam Hasan Sadulayev.
Sekeras-keras batu jika terus ditetesi air akan berlubang juga bahkan bisa hancur akhirnya. Begitu juga hati dan jiwa Devid. Setelah terus ditetesi dengan hikmat dan disinari pancaran ayat-ayat suci Al-Quran, ditambah doa dari Ayyas dan Imam Hasan Sadulayev, Devid pelan-pelan berubah. Ia mulai meninggalkan minuman keras. Ia mulai berusaha untuk shalat lima waktu.
Akan tetapi, suatu malam menjelang tidur, Ayyas dikagetkan oleh kejujuran Devid.
"Apa yang harus aku lakukan Yas. Aku sudah tidak kuat menahan lagi. Kau tahu sendiri selama ini aku tidak lepas dari perempuan. Dulu hidup satu rumah dengan Eva. Lalu bergonta-ganti hidup dengan perempuan Rusia. Sejak aku ada di rumah ini, aku tidak menyentuh perempuan sama sekali. Tetapi aku rasanya tidak kuat lagi. Aku perlu hidup bersama perempuan. Aku harus bagaimana?" Devid mengatakan apa yang dirasakannya kepada Ayyas. Tak ada yang ditutup tutupi. Devid perlu solusi.
"Islam memiliki solusi untuk masalahmu itu. Lelaki memang fitrahnya memerlukan perempuan dan sebaliknya. Dua makhluk Allah lain jenis itu memang diciptakan untuk bertemu dan hidup bersama dalam kasih sayang. Jalan paling suci bertemunya lelaki dan perempuan adalah dengan menikah. Maka menikahlah Dev, dan kau akan mendapatkan yang lebih membahagiakan daripada hidup dengan perempuan tidak halal."
"Dengan siapa aku harus menikah? Aku perlu waktu cepat. Kau harus tahu, jika kau pernah hidup bebas dengan perempuan seperti aku, kau seperti makan ganja atau narkoba, kau akan kecanduan dan ketagihan. Aku nyaris sudah tidak bisa bersabar lagi Yas."
"Sabarlah beberapa hari saja. Datanglah kepada Imam Hasan Saduleyev. Sampaikan masalahmu ini kepada beliau apa adanya. Insya Allah beliau akan ada solusi."
"Baiklah."
Hari berikutnya, pagi-pagi sekali Devid pergi ke rumah Imam Hasan Sadulayev. Ia tidak bisa menunggu sampai siang untuk bertemu sang Imam di masjid. Devid menjelaskan panjang lebar masalahnya kepada Imam Hasan Sadulayev.
Anehnya Sang Imam menanggapinya dengan tersenyum, dan sedikit pun tidak mencela Devid.
"Apa yang dikatakan Ayyas benar. Solusi masalahmu cuma satu, yaitu menikah." Kata Imam Hasan.
"Menikah?"
"Ya."
"Saya sudah tidak kuat. Kalau begitu saya harus menikah besok. Atau paling lambat besok lusa. Terus saya harus menikah dengan siapa?"
"Aku bisa membantu, aku bisa menunjukkan siapa calon pengantinmu kalau kau mau."
"Aku percayakan pada Imam."
"Baik. Tetapi kau harus berjanji."
"Berjanji apa?"
"Sungguh-sungguh mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dan kau harus berjanji tidak akan lagi menyentuh perempuan manapun yang tidak halal bagimu."
"Aku berani berjanji Imam. Allah yang jadi saksinya."
"Baiklah. Kalau kau mau aku akan menikahkan kau dengan adikku sendiri. Namanya Aminet Sadulayevna, bagaimana?"
Tubuh Devid bergetar mendengarnya. Ia pernah bertatapan wajah dengan adik Imam Hasan Sadulayev itu di jalan depan masjid Prospek Mira. Adik Imam Hasan Sadulayev itu begitu anggun, hanya lelaki tidak normal yang akan menolaknya. Jujur, nafsunya sangat menginginkan adik Imam Hasan Sadulayev. Akan tetapi nuraninya yang paling dalam mengingatkannya, apakah pantas seorang pemuda yang sedemikian kotor seperti dirinya menikahi seorang perempuan yang sangat menjaga diri seperti Aminet Sadulayevna.
Ia tidak mau mencemari kesucian adik Imam Hasan Sadulayev. Meskipun ia pernah mendapat nasihat dari Ayyas, bahwa orang yang telah bertobat
dengan sebenar tobat itu sama dengan orang yang tidak memiliki dosa. Dosanya telah diampuni oleh Allah. Ia tetap merasa dirinya masih sangat kotor dan tidak pantas diganjar dengan mendapatkan gadis secantik dan sesalehah Aminet Sadulayevna. Kalau ia boleh jujur, Aminet lebih pantas untuk seorang yang juga menjaga dirinya seperti Ayyas.
Maka mendengar tawaran Imam Hasan Sadulayev itu, Devid tak kuasa menahan airmatanya.
Dan dengan suara terbata-bata ia mengatakan kepada Imam Hasan Sadulayev, bahwa dirinya akan berpikir dan meminta petunjuk Allah. Imam Hasan memaklumi keputusan Devid.
"Memang kita disunnahkan untuk shalat Istikharah. Lakukanlah itu Devid, sebelum kau mengambil keputusan apa pun. Termasuk saat harus menentukan siapa yang akan kau nikahi."
Devid menceritakan apa yang dialaminya dengan airmata berderai. Ayyas sangat mendukung jika Devid menikahi Aminet Sadulayena.
Imam Hasan pasti tidak sembrono menawarkan adiknya kepada Devid. Pasti Imam Hasan melihat ada kebaikan di sana. Kebaikan untuk Devid, Aminet, dan banyak pihak. Imam Hasan mungkin melihat potensi besar yang ada dalam diri Devid, yang jika didampingi oleh perempuan salehah seperti Aminet Sadulayevna pastilah akan terjadi lipatan potensi yang luar biasa.
Sayangnya Devid belum bisa menerima hal itu.
"Diriku terlalu kotor Yas untuk menikahi Aminet. Aku sendiri tidak rela, diriku yang kotor ini akan menjamah gadis salehah itu. Aku sendiri jika punya anak gadis seperti Aminet Sadulayevna tidak akan aku nikahkan dengan pemuda yang sekotor diriku ini. Aku tidak bisa menikahi Aminet, bantulah aku menemukan orang yang bisa segera aku nikahi. Orang yang sepadan dengan diriku."
Ayyas tidak bisa berbuat apa-apa dengan keteguhan Devid, Menurutnya, sebenarnya Devid mendapatkan karunia luar biasa jika memiliki istri seperti Aminet Sadulayevna. Akan tetapi pernikahan tidak bisa dipaksakan. Allah sudah mencatat siapa yang akan dinikahi oleh Devid, dan siapa yang akan menjadi suami Aminet Sadulayevna.
"Kau tentu tahu, aku tidak banyak mengenal perempuan di sini. Hanya beberapa gelintir saya yang kukenal, itu pun sebagian telah kau kenal. Misalnya Yelena, Linor, dan beberapa nama yang bekerja di KBRI. Yelena memang sendiri. Mungkin jika kau minta untuk kau nikahi, dia mau. Sebab dia pernah cerita ingin hidup sebagai perempuan baik-baik, tidak sebagai pelacur lagi. Tetapi masalahnya apa ya Yelena cocok untukmu. Sekarang ini kau seorang Muslim yang menurutku sudah bersih, meskipun menurutmu masih kotor. Setiap malam kau shalat malam. Sedangkan Yelena aku tidak tahu lagi seperti apa kini hidupnya. Setelah kematian Olga Nikolayenko yang menjadi induk semangnya, apakah ia benar-benar telah berhenti sebagai pelacur. Atau tetap meneruskan profesi lamanya.
Kalau misalnya ia telah berhenti, apakah ia bersedia mengikuti jalan hidupmu. Kau tidak akan mendapatkan kebahagiaan jiwa, jika pendamping hidupmu tidak satu iman dan satu langkah denganmu." Jawab Ayyas panjang lebar.
Devid menghela nafasnya. Keduanya diam sesaat. Devid lalu berkata,
"Aku akan mencoba melamar Yelena. Kalau dia mau bersama hidup di jalan yang lurus yang aku lalui, aku akan menikahinya. Aku tahu dia pelacur, tetapi jika dia mau bertobat, itu sama persis dengan diriku."
"Terserah kau Dev. Yang jelas setelah kau merasa menemukan jalan yang baik jangan sampai tergoda untuk keluar dari jalan itu. Hati-hatilah setan menyerang dari depan, belakang, kanan, dan kiri."
"Aku camkan betul nasihatmu, Yas."
Devid benar-benar tak mau membuang waktu.
Selesai bertukar pikiran dengan Ayyas, ia langsung meluncur ke Smolenskaya, tujuannya adalah apartemen dimana Yelena berada. Apartemen yang pernah menjadi tempat tinggal Ayyas cukup lama di Moskwa. Devidlah yang memilihkan apartemen itu untuk Ayyas.
Ketika Devid memenjet bel, Yelena sedang duduk santai di sofa menonton acara televisi bersama Bibi Margareta. Yelena bangkit dan membuka pintu. Perempuan muda itu tersenyum begitu yang ada di hadapannya adalah Devid.
Yelena yang memakai kaos panjang hijau muda nampak begitu anggun. David sempat salah tingkah dibuatnya. Kondisi jiwanya yang sudah berbeda warna yang membuatnya salah tingkah.
David berusaha mengendalikan dirinya.
"Sudah ketemu Ayyas?" Sapa Yelena.
"Sudah."
"Ayo masuk dulu. Apa kabarnya?"
"Dia baik-baik saja. Penelitiannya sudah hamper tuntas."
"Puji Tuhan." Devid masuk dan duduk di sofa berhadapan dengan Yelena. Bibi Margareta membuatkan dua cangkir teh panas. Keduanya berbincang tentang
banyak hal. Tentang musim dingin, tentang St.Petersburg tempat dimana Devid sedang belajar dan tempat dimana Yelena pernah belajar menyelesaikan sarjana sastra Inggrisnya. Setelah cukup lama berbincang-bincang, Devid akhirnya menyampaikan maksud inti kedatangannya.
"Aku sedang memiliki masalah dan jikalau berkenan aku ingin meminta bantuanmu." Kata Devid dengan dada bergetar.
"Dengan senang hati. Aku pasti akan membantumu. Kaulah yang mengirim sahabatmu Ayyas kemari. Dan sahabatmu itulah yang menyelamatkan nyawaku. Berarti secara tidak langsung aku juga berhutang budi padamu. Apa yang bisa aku bantu."
"Kau tahu selama aku hidup bebas, bergonta-ganti pasangan. Aku pernah cerita padamu."
"Ya. Terus apa masalahnya."
"Aku ingin hidup yang lebih manusiawi. Hidup yang lebih bermakna. Aku ingin meninggalkan cara hidup yang bertentangan dengan nuraniku itu. Jujur altu tidak bisa hidup tanpa seorang perempuan yang menemaniku. Karenanya
aku sedang mencari perempuan yang mau hidup bersama, hidup dalam tali pernikahan yang suci.
Perempuan yang bersedia menjaga kesuciannya, dan setia kepadaku. Aku pun akan menjaga diriku dan akan setia padanya. Jika berkenan, mohon maaf jika ini dianggap lancang, maukah kau membantuku. Kau menjadi perempuan yang aku cari itu, Kita menikah dan hidup bersama dalam kesucian dan kesetiaan."
Devid mengucapkan kalimatnya itu dengan muka tertunduk. Ia samasekali tidak berani memandang wajah Yelena. Sementara Yelena tidak menduga kalau Devid akan mengatakan hal itu kepadanya. Sudah lama Yelena ingin hidup sebagai manusia yang terhormat, sudah lama ia mendambakan seorang teman hidup yang setia. Dan ia belum juga menemukannya. Kini Devid datang
dan menawarkan hal yang sudah lama didambakannya.
Ia tidak lagi melihat fisik, jika fisik yang jadi ukuran, Devid masih kalah dengan pemuda-pemuda Rusia yang dikenalnya. Tetapi ia mendambakan kesetiaan, kasih sayang dan ketulusan nurani. Dan Devid telah menawarkan
itu semua kepadanya.
Dengan airmata hampir meleleh, Yelena menjawab,
"Apa kau tahu siapa diriku sebenarnya?"
"Ya aku tahu. Kau adalah Yelena yang baik."
"Salah. Kau salah. Aku bukan Yelena yang baik. Kau harus tahu aku adalah seorang pelacur. Aku perempuan bejat. Kau salah kalau kau memintaku menjadi istrimu. Carilah perempuan baik-baik."
"Aku tidak salah. Jika kau mau tobat seperti aku, maka kau adalah orang yang aku cari. Aku juga bukan lelaki yang suci, aku adalah juga lelaki bejat. Hanya saja aku tidak mau selamanya bejat. Aku ingin jadi manusia yang sesungguhnya. Aku rasa kita sama jika kau mau bertobat dan mengikuti jalan hidupku."
Mereka berdua lalu berbincang dari hati ke hati. Semua dibuka begitu saja. Tak ada yang ditutupi. Keduanya menemukan muara yang sama, yaitu muara ingin hidup sesuai dengan fitrah manusia diciptakan oleh Allah Ta'ala. Akhirnya, di akhir pertemuan Yelena mengatakan,
"Baiklah aku bersedia menjadi istrimu. Dan aku akan mengikuti jalan yang kau tempuh, selama jalan itu memanusiakan diriku."
"Terima kasih Yelena. Kita tidak perlu menunda niat baik kita. Dua hari lagi kita menikah sesuai dengan syariah, sambil kita urus peresmian pernikahan kita sesuai hukum positif di Rusia."
"Aku setuju."

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar