Selasa, 16 April 2013

Bumi Cinta ( Part 35 )

Bumi Cinta
Karya : Habiburrahman El Shirazy

DILARANG COPY PASTE UNTUK TUJUAN KOMERSIAL !!!

35. Sujudlah Kepada Allah

Tiga hari berlalu sejak Madame Ekaterina membeberkan semua rahasia Linor. Sejak itu Linor bergulat dengan batin dan jiwanya sendiri.
Pikirannya masih menginginkan dirinya menjadi orang Yahudi, bahkan menjadi agen Zionis.
Darahnya sesungguhnya memang bukan darah Yahudi, tetapi tidak ada yang tahu itu kecuali Madame Ekaterina yang selama ini ia anggap sebagai ibu kandungnya. Bahkan Ben Solomon atasannya sangat membanggakan dirinya sebagai gadis Yahudi tulen yang berprestasi bagi Zionis Israel. Ben Solomon sampai menginginkan agar dirinya nanti menikah dengan putra sulungnya yang kini menjadi tentara Israel dan bertugas di daratan Sinai, tepatnya di perbatasan Gaza.
Akan tetapi nuraninya yang paling dalam mengingkari segala yang ia pikirkan. Nuraninya terus mengajaknya untuk menjadi anak perempuan yang mengandung dan melahirkannya, yaitu menjadi perempuan Palestina. Sebab  dia adalah keturunan orang Palestina yang tulen.
Darah yang mengalir dalam tubuhnya sesungguhnya adalah darah Palestina. Dan perempuan yang menjadi sebab dirinya hadir di dunia adalah Salma Abdul Aziz, perempuan Palestina.
Dan wajah perempuan Palestina itu begitu mirip dirinya.
Ya, wajah Salma Abdul Aziz, ibu kandungnya, begitu mirip dirinya. Airmata Linor meleleh setiap kali mengingat wajah itu, dan setiap kali mengingat kematiannya yang tragis dan menyedihkan. Yang robek perutnya dan hancur dadanya, dan yang pakaiannya terkoyak-koyak itu adalah ibu kandungnya. Ibunya mati beberapa hari setelah melahirkannya karena dibantai oleh Zionis Israel melalui tangan milisi Falangis dalam pembantaian Sabra dan Shatila.
Sejak ada di Ukraina Linor tidak melakukan kontak dengan markas agen di Moskwa. Ia masih bergulat dengan dirinya sendiri. Linor tahu bahwa telah ada peristiwa besar di Moskwa. Lewat siaran televisi ia tahu, Metropole Hotel telah dibom, dan seperti skenario yang disepakati para agen zionis, Ayyaslah yang akan dijadikan kambing hitam. Ternyata skenario itu gagal. Di saat bom meletus, Ayyas sedang siaran live di sebuah stasiun televisi, jadi tidak mungkin bahwa dia pelakunya. Pihak kepolisian, Kementerian Luar Negeri Rusia dan pihak stasiun televisi yang menduga Ayyas sebagai pelaku pemboman sudah meminta maaf dan mencabut dugaan tak berdasar itu.
Linor tahu, para agen Zionis di Rusia dan di Eropa Timur kini sedang mencari dirinya. Sebab, kesalahan itu ada pada dirinya. Mereka pasti menyalahkan dirinya kenapa sampai tidak tahu bahwa di jam yang sama dengan rencana peledakan, Ayyas ada acara siaran live. Mereka juga pasti menyalahkan dirinya, kenapa tas ransel berisi bahan peledak itu tidak ditemukan di kamar Ayyas. Linor sendiri tidak tahu kenapa bisa gagal. Sebenarnya ia sendiri penasaran, apa yang sedang terjadi di apartemennya di Panvilosky Pereulok. Bagaimana tas ransel itu tidak ditemukan di kamar Ayyas? Apakah Ayyas mengetahui ada benda aneh di kamarnya dan membuangnya?
Atau para polisi itu yang bodoh yang tidak bisa menemukan tas itu di bawah kolong tempat tidur Ayyas?
Ia jarang gagal. Tetapi kali ini gagal. Biasanya ia sangat sedih ketika gagal. Kali ini justru ia agak bahagia ketika gagal. Bahagia karena Ayyas tidak jadi celaka karena perbuatannya.
Linor memprediksi satu minggu ke depan keberadaannya akan diketahui oleh Ben Solomon.
Maka ia harus melakukan sesuatu kalau memang tidak ingin lagi bergabung dengan agen Zionis.
Linor memerlukan satu hari lagi untuk berpikir. Ia masih bimbang antara tetap beridentitas Yahudi meskipun sesungguhnya dirinya bukan Yahudi, atau menanggalkan identitas Yahudi yang melekat pada dirinya selama ini dan bergabung dengan ibu kandungnya, yaitu menjadi perempuan Palestina.
Siang itu sebelum makan siang, Linor masuk ke kamar Madame Ekaterina. Diam-diam dan tanpa mengetuk pintu seperti biasanya. Ia sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba ingin memasuki kamar orang yang selama ini ia anggap sebagai ibunya sendiri itu. Ia hanya ingin membuka almari besar, dan mengambil buku dari koper tua milik Madame Ekaterina. Buku yang dipegang oleh Madame Ekaterina ketika memperlihatkan foto Salma Abdul Aziz yang mirip dirinya. Ia berharap dari buku itu ia mendapatkan informasi lebih tentang ibu kandungnya.
Salma menyelinap masuk. Ia berharap ibunya sedang tidur. Ternyata dugaannya meleset. Ia melihat Madame Ekaterina sedang tersungkur sujud
di atas selembar kain. Linor kaget bukan kepalang.
Madame Ekaterina melakukan ritual ibadah seperti orang-orang Islam. Linor berdiri mematung di tempatnya. Kakinya seperti terpajang di atas lantai tidak bisa digerakkan. Madame Ekaterina kini duduk dengan khusyuk. Kedua matanya tertuju ke tempat dia sujud. Tangan kanannya memberi isyarat dengan mengacungkan jari telunjuknya. Bibirnya bergetar melafalkan tahiyyat dan syahadat. Beberapa detik kemudian Madame Ekaterina menengok ke kanan dan ke kiri sambil mengucapkan salam.
Linor masih berdiri mematung di depan pintu.
Selain kaget ia dicekam pelbagai perasaan yang menyerang kesadarannya. Ada perasaan marah dan cemburu, seolah ia belum rela melihat Madame Ekaterina melakukan ritual ibadah seperti orang Islam. Juga ada perasaan penasaran, apakah orang yang selama ini ia anggap sebagai ibunya sendiri itu masih dalam taraf coba-coba atau telah benar-benar menjadi penganut Islam.
Kalau benar telah menjadi penganut Islam, sejak kapan itu terjadi. Ada juga perasaan yang aneh yang tiba-tiba menyusup ke dalam dadanya, yaitu perasaan haru. Ia yakin ibu kandungnya adalah seorang penganut Islam, dan Madame Ekaterina melakukan ritual ibadah orang Islam itu, mungkin karena rasa sayang dan cinta kepada ibu kandungnya, yaitu Salma Abdul Aziz. Alangkah kuat ikatan persahabatan keduanya.
Selesai shalat Madame Ekaterina membaca zikir kemudian mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Allah. Dengan mata meleleh, Madame Ekaterina meminta kepada Allah agar menurunkan hidayah kepada orang yang sangat
disayanginya yaitu Linor. Ia menangis kepada Allah agar Linor dikembalikan kepada fitrahnya,yaitu menjadi seorang Muslimah seperti ibu kandungnya. Madame Ekaterina merasa hanya dengan kekuatan doa ia bisa berikhtiar,
hanya kepada Allah ia mengadu dan memohon pertolongan.
Sesaat lamanya Madame Ekaterina menangis tersedu-sedu. Dan Linor tetap tidak beranjak dari tempatnya. Mendengar tangis Madame Ekaterina, Linor merasa ada sesuatu yang menyusup halus ke dalam nuraninya. Entah kenapa ia tiba-tiba dicekam rasa haru. Mata lalu berkaca-kaca dan airmatanya tak kuasa ia tahan. Akhirnya meleleh dan tumpah.
Selesai menangis kepada Allah, Madame Ekaterina berdiri dan membalikkan tubuhnya.
Alangkah terkejutnya Madame Ekaterina, ketika melihat Linor berdiri mematung dengan airmata meleleh.
"Kau melihat aku shalat, Anakku?" Tanya Madame Ekaterina dengan suara parau dan tubuh bergetar.
Linor menganggukkan kepala.
"Ya memang sudah saatnya kau mengetahuinya.Kini kau sudah tahu, bahwa aku adalah seorang Muslimah. Aku sudah menanggalkan agama Yahudiku dan sudah menjadi pengikut Nabi paling mulia yaitu Muhammad Saw. Apakah kau marah atau kecewa mengetahui Mamamu ini telah pindah agama?"
Linor tidak menjawab. Ia hanya diam mematung. Airmatanya terus meleleh.
"Sejak kapan Mama berpindah agama?" Tanya Linor dengan dada bergetar.
"Sudah lama. Kira-kira satu tahun sebelum Eber Jelinek meninggal dunia."
"Apakah dia tahu kalau Mama sudah menjadi seorang penganut Islam?"
"Tentu saja tidak. Dia tidak boleh tahu. Mama menyembunyikan keislaman Mama darinya. Kalau dia tahu mungkin Mama lebih dulu meninggal dunia. Dan Mama tidak akan memiliki kesempatan untuk menjelaskan sejarah ibu kandungmu yang sebenarnya."
"Kenapa Mama sampai memilih memeluk Islam?"
"Bacalah riwayat Maryam Jameela. Kira-kira penyebab keislaman Mama hampir sama dengan Maryam Jameela."
"Siapa itu Maryam Jameela?"
"Kau telah mendapat pendidikan untuk menelusuri data seseorang sampai ke akar-akarnya. Tidak susah bagimu untuk mengetahui siapa Maryam Jameela. Mama tidak perlu menjelaskannya kepadamu."
"Baiklah Linor akan mencari data perempuan itu."
"Linor, Anakku."
"Iya, Mama."
"Apakah kau marah, Mama masuk Islam?"
"Linor tidak tahu Mama. Linor akan mencari tahu kenapa Maryam Jameela masuk Islam, baru Linor akan bisa berpikir lebih baik, apakah keputusan Mama itu masuk akal ataukah tidak."
"Ketahuilah Linor, Salma Abdul Aziz, ibu kandungmu adalah seorang Muslimah."
"Linor sudah menduga, sebab dia adalah perempuan Palestina."
"Apa kau tidak tertarik mengikuti jejak ibu kandungmu?"
"Linor tidak tahu Mama."
"Sungguh akan lengkap kebahagiaan Mama jika kau mengikuti jejak ibu kandungmu. Mama yakin jika ibu kandungmu masih hidup dan kau diasuh oleh ibu kandungmu, kemungkinan besar kau akan menjadi seorang Muslimah yang tangguh, layaknya Muslimah Palestina yang menyerahkan seluruh umurnya untuk berjuang di jalan Allah."
"Tuhan pasti punya rencana untuk Linor sehingga Linor kehilangan ibu kandung sejak kecil dan Linor jadi seperti ini. Terus terang saat ini Linor sedang di persimpangan jalan. Berilah kesempatan bagi Linor untuk berpikir menentukan arah hidup Linor. Dan Linor minta Mama tidak usah bersedih atau merasa berdosa, jika ternyata Linor tidak mengikuti jalan hidup Mama atau jalan hidup ibu kandung Linor."
"Mama akan berdoa semoga Allah menunjukkan jalan terbaik untukmu, Anakku."

***

Sejak itu Linor rajin mencari informasi tentang Islam di internet. Ia juga terus mencari data dalam versi yang berbeda tentang Palestina.
Ia membaca artikel-artikel tentang Palestina yang ditulis oleh sarjana Muslim. Linor berusaha untuk membuka pikirannya lebih luas, tidak terbatas pada doktrin yang ditanamkan oleh sekte Yahudi Gush Emunim yang sangat radikal.
Linor akhirnya mendapatkan data yang lengkap tentang Maryam Jameela. Ia membaca dengan detil kenapa ia memilih Islam dan meninggalkan agama Yahudinya. Linor cukup mendapat pencerahan dari membaca surat menyurat Maryam Jameela dengan Abui A'la Al Maududi. Linor tidak hanya membatasi membaca biografi Maryam Jameela, ia juga membaca biografi para limuwan dan pemikir yang memeluk Islam justru di puncak karier ilmiah mereka, seperti  Dr. Keith L. Moore, Dr. Gary Miller, Dr. Roger Garaudy, Dr. Murod Hofmann, dr. Maurice Bucaille, Dr. Jefery Lang. Dan yang paling menarik baginya adalah pengalaman seorang Yvonne Ridley, wartawan Sunday Express, koran terbitan Inggris. Yvonne Ridley pada bulan September 2001 diselundupkan dari Pakistan ke perbatasan Afghanistan untuk melakukan tugas jurnalistik. Ia menuturkan pengalamannya di Afghanistan saat ditangkap Taliban yang justru membuatnya masuk Islam, bahkan menyebutnya sebagai keluarga terbesar dan terbaik di dunia.
Yvonne ternyata mendapatkan kesan yang berbeda tentang orang-orang Islam yang selama ini dituding sebagai sumber kekacauan dunia oleh Amerika. Yvonne menemukan penghormatan yang tulus dari orang-orang Taliban yang menahannya, yang awalnya ia sudah berburuk sangka pasti akan diperlakukan dengan tidak manusiawi. Ternyata kenyataan yang dialaminya sungguh berbeda dari purba sangkanya.
Linor mencari data lebih lengkap tentang Yvonne Ridley, Linor mendapati kalimat Yvonne yang menyentak dadanya,
"Aku luluh dengan apa yang kubaca. Tak ada satu pun yang berubah dari isi kitab ini, tak satu titik pun, sejak 1400 tahun yang lalu. Aku bergabung dengan apa yang kuanggap sebagai keluarga terbesar dan terbaik yang ada di dunia ini. Kalau kami bersatu, kami betul-betul tak tertahankan."
Di tempat yang lain, Yvonne mengakui Islam sangat memuliakan perempuan, jauh dari anggapan yang dipublikasikan di dunia Barat yang mencitrakan Islam sebagai agama yang menindas kaum perempuan. Yvonne Ridley mengatakan,
"Islam ternyata memanjakan perempuan. Perempuan tak perlu dipaksa bekerja agar dapat mendidik anak-anaknya, agar terhindar dari minum-minuman keras, pornografi, dan hal-hal lain yang dapat menghambat pertumbuhan remaja seperti yang tengah dikhawatirkan pemerintah
Inggris. Bahkan ditegaskan di dalam Islam, perempuan merupakan tiang negara dan sesungguhnya surga berada di bawah telapak kaki ibu.
"Memang ada perempuan-perempuan tertindas di negara-negara Muslim, tapi perempuan-perempuan tertindas juga ada di tepi jalan di Tyneside, Inggris. Penindasan itu berasal dari kultur, bukan dari ajaran Islam. Al-Quran menyatakan dengan sangat jelas bahwa perempuan itu setara dengan kaum laki-laki.
"Melalui tulisan tentang isu-isu kultural seperti pernikahan di bawah umur, praktik sunat terhadap perempuan, pembunuhan atas nama kehormatan keluarga, dan kawin paksa, mereka salah menilai ajaran Islam dengan aspek cultural para pemeluk agama Islam.
Lebih buruk lagi, Arab Saudi mereka jadikan contoh sebuah negeri Muslim, dimana kaum perempuan dipinggirkan karena di sana perempuan dilarang menyetir. Isu-isu di atas tak ada hubungannya dengan Islam, tapi kebanyakan orang Barat masih menulis dan membicarakan tentang hal-hal semacam itu dengan nada angkuh dan sok kuasa seraya menyalah-nyalahkan Islam. Padahal, ada beda mendasar antara tingkah laku kultural dan ajaran Islam."
Kemudian mengenai tuduhan bahwa Islam mengizinkan laki-laki memukul istri mereka, Yvonne mengatakan bahwa itu tidak benar.
Orang-orang yang senang mengkritik Islam tentu mendasari anggapan itu dengan mengutip Al-Quran dan hadis secara acak, tapi biasanya dikutip di luar konteksnya. Dalam Islam, jika seorang laki-laki menyentuh istrinya, ia tak diizinkan meninggalkan bekas apa pun di tubuhnya. Ini sebenarnya cara lain Al-Quran mengatakan, Jangan kau pukul istrimu, tolol!
Linor mendapatkan keterangan yang indah tentang Islam, tetapi Linor seperti biasa ia tidak mau memercayainya begitu saja. Ia bahkan tidak akan percaya begitu saja pada obyektivitas wartawan kelas dunia dari Sunday Express sekelas Yvonne Ridley. Linor memutuskan untuk mempelajari sendiri ajaran
Islam, baru nanti ia bisa memutuskan langkah hidupnya.
Keputusannya untuk mengkaji Islam membuatnya harus memutus rantai komunikasi dengan para agen Zionis. Jika tidak, maka nyawanya dan nyawa Madame Ekaterina berada di ujung tanduk, bisa melayang kapan saja. Ia akan terus diburu oleh agen Mosad sampai ujung dunia.
Maka suatu hari, ia menyamar dan duduk di sebuah kawasan paling ramai di kota Kiev. Linor mencari seseorang yang ia anggap paling mirip dengan dirinya, atau paling tidak mendekati serupa dengan ciri-ciri fisik dirinya. Hari pertama ia tidak mendapatkan targetnya. Juga pada hari kedua. Pada hari ketiga, ia menemukan targetnya.
Seorang gadis yang kelihatannya masih berada di bangku kuliah. Linor mengikuti gadis itu diam-diam sampai ia masuk ke dalam apartemennya di pinggir utara kota Kiev.
Dengan kesabaran luar biasa, Linor menunggu gadis itu sampai keluar lagi dari apartemennya, ia terus mengikutinya. Gadis itu ternyata bekerja di sebuah toko sepatu sebagai penjaga toko. Linor terus mengawasi sampai akhirnya tahu aktivitas harian gadis itu. Nalurinya sebagai agen rahasia Mosad masih tertanam kuat. Demikian juga jiwa kejamnya.
Akhirnya pada suatu senja, saat gadis itu berjalan sendirian di sebuah jalan sepi dekat toko sepatunya, Linor melumpuhkan gadis itu dengan cepat, lalu memasukkan ke dalam mobil sedan yang ia sewa dengan sangat cepat dan tenang.
Linor membawa gadis itu ke sebuah villa yang ia sewa di tepi sungai Dnipro. Setelah mengambil segala identitas gadis itu dan setelah menganti pakaian gadis itu dengan pakaian yang biasa ia pakai kalau rapat dengan Ben Solomon,
Linor menembak gadis itu dengan tiga tembakan. Dua di dada dan satu di keningnya. Linor menembaknya dari jarak enam meter.
Gadis itu tergeletak begitu saja di lantai ruang tengah villa itu. Darahnya mengaliri lantai marmernya yang licin.
Linor lalu meletakkan barang-barangnya termasuk dua paspornya di salah satu kamar villa itu. Linor telah merencanakan operasinya itu dengan sangat detil. Dan ia meninggalkan villa itu tanpa ada seorang pun yang mengetahui.
Hari berikutnya beberapa media nasional Ukraina memberitakan tewasnya seorang gadis muda berkebangsaan Rusia bernama Linor di sebuah villa di tepi sungai Dnipro. Motif pembunuhan belum bisa dipastikan oleh pihak kepolisian.
Hanya saja pihak kepolisian menduga bahwa gadis itu adalah seorang pelacur kelas atas.
Sebab villa itu biasa disewa oleh pelacur berkelas. Dan ada satu media yang menganalisis bahwa gadis yang mati ditembak itu adalah seorang agen intelijen yang menyamar sebagai pelacur.
Meskipun belum yakin betul operasinya itu bisa meyakinkan agen Mosad bahwa dirinya telah mati. Akan tetapi paling tidak ia merasa tujuh
puluh persen operasinya itu bisa menjamin keleluasaan geraknya di beberapa kota besar Eropa.
Untuk sementara ia tidak akan memasuki Rusia. Ia akan memasuki Rusia setelah merasa dirinya benar-benar telah dianggap sirna di muka bumi ini, meskipun itu tidak mudah.
Setelah melakukan operasi itu ia menemui Madame Ekaterina dan mohon pamit untuk mengkaji Islam lebih dalam. Untuk itu ia akan pergi ke Berlin. Dari data yang ia peroleh di internet ada komunitas Muslim cukup kuat di Jerman, termasuk di kota Berlin. Ia merasa Berlin adalah tempat yang cukup aman baginya untuk menyembunyikan identitasnya. Ketika ia mengemukakan niatnya ke Berlin, Madame Ekaterina memberinya sebuah nama untuk dikunjungi. Sebuah keluarga Turki-Syiria yang sudah lama menetap di Berlin.
"Mereka adalah teman baik Mama di London. Mereka Muslim yang taat dan baik. Mama minta kau jujurlah pada mereka. Insya Allah mereka akan sangat menyukaimu." Ujar Madame Ekaterina saat melepas Linor di depan pintu apartemen.
Dengan menggunakan kereta Linor pergi meninggalkan Kiev menuju Berlin. Identitas yang ia pakai adalah identitas seorang gadis berkebangsaan Belarusia bernama Sofia Corsova. Di dalam kereta Linor duduk di samping seorang lelaki setengah baya yang membaca koran Pravda.
Linor menduga lelaki itu berasal dari Rusia. Selesai membaca koran lelaki itu lalu tidur dengan nyenyaknya sampai mendengkur. Koran Pravda yang dipangku lelaki itu jatuh ke lantai. Linor tidak bisa menahan untuk tidak mengambil Koran itu.
Tanpa berpikir panjang Linor memungut Koran Pravda itu dan membacanya dengan seksama.
Mulanya ia agak kecewa bahwa koran itu sudah kadaluarsa tiga hari. Tetapi Linor tetap saja membacanya sambil mendengarkan dengkuran lelaki setengah baya itu.
Di halaman lima Linor tersentak. Ada peristiwa yang kembali mengguncang Moskwa. Dua geng Mafia terlibat dalam perang terbuka.
Dengan kekuatan penuh geng Voykovskaya Bratva yang dipimpin Boris Melnikov menyerang markas geng Tushinskaya Bratva yang dipimpin oleh Vladimir Nikolayenko yang tak lain adalah suami Olga Nikolayenko. Terjadi
kekacauan di jantung kota Moskwa. Enam orang tewas dalam pertikaian berdarah itu, termasuk dua pimpinan geng yaitu Boris Melnikov yang jantungnya robek tertembus peluru dan Vladimir Nikolayenko yang kepalanya pecah dihantam tiga peluru AK 47. Olga Nikolayenko, istri Vladimir Nikolayenko, luka parah dan kemungkinan cacat seumur hidup.
Linor tersenyum dingin, rencananya berhasil seratus persen kali ini. Ia membayangkan bahwa Yelena dan Bibi Margareta pasti sedang bahagia di Moskwa sana. Yelena pasti merasa telah merdeka dari cengkeraman Olga Nikolayenko dan Vladimir Nikolayenko. Jika Yelena konsisten dengan yang diucapkannya, maka Yelena akan memulai lembaran hidup baru dan meninggalkan dunia pelacuran yang selama ini menjeratnya. Ia senang jika itu terjadi pada Yelena.
Kereta terus berjalan, dan Linor mulai mengantuk. Ia meletakkan koran Pravda di pangkuan lelaki setengah baya itu. Dari jendela Linor melihat ada salju yang mulai mencair.
Pohon-pohon cemara bergoyang tertiup angin. Sesekali nampak hamparan kebun-kebun gandum yang telah tertutup salju.
Linor akhirnya terlelap. Dalam tidurnya ia bermimpi didatangi ibunya, Salma Abdul Aziz.
Ibunya nampak begitu cantik, anggun dan memesona. Sementara dirinya kusut, wajahnya bopeng menjijikkan, kulitnya penuh nanah dan mengeluarkan lendir yang sangat anyir baunya.
Dengan sabar ibunya menuntunnya menuju sebuah telaga yang sangat jernih airnya. Telaga itu dijaga oleh orang-orang suci yang bercahaya.
Ketika ia dan ibunya mendekat, seorang penjaga meminta agar Linor dijauhkan dari telaga. Ibunya sampai menangis meminta agar anaknya diizinkan disiram dengan air telaga itu agar luka-lukanya sembuh. Tetapi tetap saja penjaga telaga itu tidak memberi izin.
Akhirnya ibu kandungnya itu berkata kepada Linor dengan berderai airmata,
"Anakku, sesungguhnya yang kini nempel di tubuhmu adalah amal perbuatanmu sendiri. Kau sendiri yang harus membersihkannya dengan amal saleh. Tubuhmu akan benar-benar suci dan bersih, jika kau membersihkannya minimal lima kali sehari. Sujudlah kepada Allah lima kali sehari, maka Allah akan menyayangimu dan melimpahkan rahmat dan kesejahteraan kepadamu
di dunia dan di akhirat. Dan jika kau sudah bisa sujud lima kali sehari carilah pendamping hidup yang memiliki keteguhan iman mirip Yusuf alaihissalam"
Setelah itu ibunya pergi. Linor terbangun dari mimpinya. Hari masih siang. Kereta melaju menyibak kabut dan sesekali bergoyang. Linor meraba wajahnya. Masih halus. Ia lihat kedua tangannya masih halus. Meski demikian wajahnya nampak pucat. Ia sangat ketakutan dengan mimpi yang baru saja dialaminya. Ia sungguh takut memiliki wajah dan tubuh seburuk itu.
Linor terus merenungkan mimpi yang dialaminya. Mimpi itu seperti nyata. Ada satu hal yang membuat hatinya merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, ibunya begitu sangat mencintai dan menyayanginya. Tangis ibunya yang penuh cinta kepada dirinya, apa pun keadaan dirinya, benar-benar membuat hatinya bergetar. Entah kenapa mata Linor tiba-tiba berkaca-kaca. Ia merasakan kerinduan untuk bertemu dengan ibu kandungnya. Dan karena ia tahu, ibu kandungnya telah gugur dalam pembantaian Sabra dan Shatila, maka airmatanya semakin deras meleleh.
Kereta terus berjalan menembus udara musim dingin. Rasa haru dan rindu kepada ibu kandungnya hadir begitu saja seolah berhembus menembus dada Linor sampai relung hati paling dalam. Airmatanya terus melelah tanpa bisa ditahan.
Kereta terus berjalan membawa seribu kisah hidup para penumpangnya. Ada yang bahagia, ada yang sedang berduka. Ada yang dadanya dipenuhi kemantapan, dan ada yang hanya berisi kebimbangan. Kereta terus berjalan tak peduli apa , sedang terjadi dalam jiwa para penumpangnya.
Kereta hanya mengantarkan sampai pada stasiun tujuan, perjalanan selanjutnya para penumpangnyalah yang memutuskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar