Kamis, 16 Mei 2013

Bumi Cinta ( Part 40 )

Bumi Cinta
Karya : Habiburrahman El Shirazy

DILARANG COPY PASTE UNTUK TUJUAN KOMERSIAL !!!

 40. Bumi Cinta

Sementara itu, sedetik selepas kepergian Linor alias Sofia, hati Ayyas justru terus berdetak dan merasakan keindahan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Wajah Sofia yang anggun dalam balutan jilbab putih seolah tidak mau sirna dari pikirannya.
Sejatinya, ia merasa Sofia yang baru saja menemuinya tidak layak ditolak keinginan sucinya.
Sofia telah hijrah. Dan ia ingin menyempurnakan hijrahnya bersama dirinya. Sesungguhnya, merupakan suatu kehormatan jika dirinya bisa mendampingi Sofia mewakafkan diri berjuang dijalan Allah. Adakah yang lebih mulia dari orang yang menyerahkan jiwa dan raganya di jalan Allah?
Tak terasa hati Ayyas basah. Ia tidak kuat untuk berdiam diri. Tiba-tiba kakinya melangkah menuju jendela. Ia ingin melihat Sofia, dan kalau sempat ia ingin memanggilnya. Ayyas bergegas menuju jendela. Dari jendela ia melihat Sofia melangkah semakin menjauh. Jilbabnya yang putih berkelebat.
Ia ingin memanggil Sofia dan mengatakan kesediaannya, tetapi ia merasa Sofia tidak akan mendengarnya.
Sesaat Ayyas terpaku di depan jendela. Ia ingin berlari turun dan mengejar Sofia. Tetapi entah kenapa ia ragu? Apakah itu tidak seperti anak-anak remaja yang sedang jatuh cinta di sinetron-sinetron Indonesia? Ia mengurungkan
niatnya. Ia berniat setelah shalat Isya' ia akan mengontak Sofia dan mengajaknya bertemu di rumah Imam Hasan Sadulayev, atau di suatu tempat yang aman dari fitnah, dan ia akan menyampaikan kesediaannya menerima tawaran Sofia.
Ayyas masih memandangi Sofia yang terus melangkah. Tiba-tiba Ayyas melihat ada mobil sedan merah meluncur agak cepat di belakang Sofia. Dan Ayyas tersentak kaget. Sekilas ia melihat penumpang sedan itu mengeluarkan pistol dari jendela mobil. Dengan tetap melaju kencang, pistol itu diarahkan kepada Sofia. Ayyas langsung teringat cerita Sofia, bahwa Sofia mungkin sedang diburu oleh agen-agen Mosad.
Dengan sangat keras Ayyas menjerit mengingatkan Sofia,
"Sofiaaa awaaass!"
Dan...
"Dor! Dor! Dor!"
Ayyas mendengar suara tembakan itu. Ia merasa puluhan peluru seperti menembak dirinya dan menembus jantungnya. Tubuhnya langsung kaku.
Kedua kakinya seperti tidak ada tulang-tulangnya. Kedua matanya melihat Sofia yang berjilbab putih ambruk di trotoar jalan. Sesaat ia merasa sangat terpukul. Ia merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Sofia seperti bukan orang lain lagi baginya. Sofia sudah ada di dalamhatinya. Sofia sudah menjadi separo jiwanya, dan. tiba-tiba ia merasa harus kehilangan separo
jiwa yang dicintainya. Seperti apakah perasaan seseorang yang tehih kehilangan separo jiwanya.
Airmata Ayyas meleleh. Kedua kakinya terasa lemas. Namun akal sehatnya segera mengingatkan dirinya untuk segera bangkit dan berlari secepatnya ke tempat di mana Sofia roboh ditembus pelor peluru. Ayyas langsung bangkit dan berlari sekencang-kencangnya sambil memanggil-manggil nama Sofia.
Dan hatinya bagai ditusuk-tusuk belati melihat Sofia terkapar bersimbah darah. Jilbab putih itu memerah. Merah darah! Wajah anggun itu tampak pucat. Bibirnya mengatup dan matanya terpejam. Darah segar masih terus mengalir di dekat pundak dan lehernya.
Ayyas meraih tubuh Sofia dan meletakkan di pangkuannya. Ia meraba nadinya. Masih berdenyut.
Ia berpikir keras, bagaimana menyelamatkan nyawa Sofia. Darah terus mengalir.
Dan tangan Sofia terasa semakin dingin. Ayyas melihat ke kiri dan ke kanan. Ia melihat sepanjang jalan. Kenapa sepi, tidak ada orang?
Di kejauhan ia melihat mobil keluar bergerak menjauh. Ia memanggil-manggil mobil itu minta tolong. Tetapi suaranya sepertinya tidak sampai, atau sampai tetapi pengendara mobil itu tidak mau peduli kecuali urusan dirinya sendiri.
Ayyas tidak bisa tinggal diam di situ menyaksikan Sofia sekarat dan mati kehabisan darah.
Ayyas membopong Sofia dan membawanya berjalan ke arah jalan yang lebih besar. Ia bergegas secepat mungkin. Airmata Ayyas juga terus menetes mengiringi darah yang terus menetes di sepanjang trotoar. Dalam hati Ayyas berdoa agar Allah menyelamatkan nyawa Sofia.
Ia berjanji kepada Allah, jika Sofia selamat, ia akan menikahinya dan menjadikannya sebagai teman berjuang di jalan-Nya sampai maut datang menjemput. Ia juga berjanji, jika Sofia selamat, ia akan menjadikannya sebagai satu-satunya bidadari surga bagi dirinya.
Ayyas mendengar deru mobil dari arah belakang.
Di kejauhan ia melihat sedan merah sedang meluncur ke arahnya. Ia kaget bercampur cemas. Ia khawatir jika yang menderu itu adalah mobil agen Mosad yang menembak Sofia. Jika itu yang terjadi, sulit baginya untuk lolos. Ia dan Sofia benar-benar tidak akan selamat, kecuali Allah berkehendak lain dan melindunginya.
Sedan merah itu semakin mendekat. Ayyas semakin cemas.
Ia pasrahkan segala takdirnya pada Allah Sang Maha Penentu nasib umat manusia. Ia tetap berdiri dengan membopong Sofia sambil berdoa dalam hati, agar Allah melindunginya dan menyelamatkan Sofia. Ia tidak mungkin menurunkan Sofia lalu lari menyelamatkan diri. Biarlah kalau memang dirinya harus mati, ia rela mati dalam perjalanan menolong orang yang hijrah di jalan Allah.
Mobil sedan merah itu terus mendekat. Begitu dekat, Ayyas melihat seorang ibu setengah baya yang mengendarai mobil itu. Ia lega. Ibu setengah baya itu menghentikan mobilnya tepat di samping Ayyas.
"Oh Tuhan, apa yang terjadi dengannya? Oh darahnya terus mengucur? Apa yang terjadi dengannya?" kata Ibu setengah baya itu sambil turun dari mobilnya.
"Tolonglah Madame, ada orang yang menembaknya. Tadi nadinya masih berdenyut. Mungkin masih bisa diselamatkan kalau dia segera sampai di rumah sakit," kata Ayyas dengan bibir bergetar.
"Ditembak? Apa suara tembakan tadi?"
"Iya benar."
"Oh Tuhan. Apa salahnya? Kenapa sampai ada yang tega padanya. Ayo cepat naik ke mobil. Kita bawa dia ke rumah sakit."
"Baik Madame."
Ayyas membawa Sofia masuk ke mobil. Tangan Sofia semakin terasa dingin. Ayyas mencari-cari denyut nadinya tetapi tidak juga ketemu. Jantung Ayyas seperti mau hilang. Ia tidak mau kehilangan Sofia. Ia tidak mau Sofia mati.
"Sofia, Sofia. Kau jangan mati dulu Sofia. Bertahanlah Sofia. Aku akan menikahimu. Demi Allah, aku akan menikahimu. Bertahanlah Sofia!" Kata Ayyas dengan airmata berderai. Ia belum pernah menangis seharu dan sesedih itu.
Tetapi Sofia tetap diam, dan darah di pundaknya terus mengalir.
Mobil sedan merah itu meluncur meninggalkan Aptekarsky Pereulok. Ibu setengah baya itu berusaha mengendarai mobil sedan itu secepat mungkin. Ayyas masih bergulat dengan rasa harunya sambil terus memandangi Sofia yang berlumur darah. Jilbab putihnya memerah. Merah darah! Darah membasahi jok mobil sedan itu.
Ayyas terus mencari-cari denyut nadi Sofia; tidak juga ketemu. Ia meletakkan tangannya di depan hidung Sofia; tidak juga merasakan lembut nafasnya. Apakah Sofia sudah mati? Kecemasan dan kekhawatiran semakin merayap dalam diri Ayyas. Ia tak pernah merasakan kecemasan dan kekhawatiran yang sedemikian dalam seperti itu sebelumnya.
Ayyas langsung terisak-isak. Jika Sofia benar-benar mati, alangkah sedih dirinya. Alangkah menyesal dirinya tidak langsung menjawab tawaran Sofia. Dan alangkah bahagianya Sofia.
Ia meninggal dalam keadaan mulia; husnul khatimah. Ia meninggal dalam keadaan Muslimah dengan segala dosa yang telah diampuni Allah Ta'ala. Ia meninggal dalam keadaan suci seperti bayi yang baru saja dilahirkan di
muka bumi.
Dan alangkah bahagianya Sofia yang telah menemukan bumi cinta yang sesungguhnya.
Adakah bumi cinta yang lebih indah dari surganya Allah Ta'ala?
Ayyas yakin, jika Sofia meninggal dunia, maka ia meninggal dalam keadaan syahid. Sebab ia meninggal dalam keadaan melangkahkan kaki menuju Allah dengan darah tertumpah di jalan Allah.
Ayyas terus terisak. Isakan yang kalau siapa pun melihat dan mendengarnya niscaya akan tersayat hatinya. Isakan seorang pencinta sejati, yang mencintai kekasihnya karena Allah, lalu kehilangan kekasihnya karena Allah pula. Adakah isakan yang lebih menyayat hati dari isakan seorang pencinta sejati yang kehilangan sang pujaan hati karena Allah Ta'ala?
Ayyas memandangi wajah Sofia yang pucat tetapi tetap anggun dalam-dalam. Sofia tetap saja diam. Kedua matanya tetap terkatup. Darah terus mengalir. Dan airmata Ayyas terus menetes, sementara hatinya tiada henti meratap kepada Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, lagi Maha Mengabulkan segala doa hamba-hamba-Nya.
Dengan penuh rasa cinta karena Allah semata, Ayyas memanjatkan doa dalam getar suara yang menyesakkan dada,
"Ya Allah, aku tetap memohon kepada-Mu agar Engkau selamatkan Sofia. Hanya Engkau yang bisa menyelamatkannya ya Allah. Engkaulah Dzatyang menghidupkan dan mematikan. Ya Allah berilah kesempatan padaku untuk memenuhi permintaan orang yang berhijrah di jalan-Mu. Akan tetapi jika Engkau menakdirkan Sofia mati, ya Allah, maka jadikanlah matinya itu syahid di jalan-Mu. Dan terimalah dia dengan penuh keridhaan dari-Mu. Jika itu yang terjadi ya Allah, maka syahidkan pula aku di jalan-Mu, agar kelak aku bisa berjumpa dengannya di Bumi Cinta-Mu yang sejati, yaitu surga yang Engkau sediakan bagi hamba-hamba-Mu yang beriman dan beramal saleh. Kabulkanlah doaku, ya Allah. Amin. "
Mendengar doa Ayyas, ibu setengah baya itu dengan lirih berkata,
"Ameen. Tuhan pasti mengabulkan doa yang berbalut darah dan airmata seperti doamu, Malcishka. Percayalah, Tuhan pasti mengabulkan. Pasti."

~TAMAT~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar