Rabu, 31 Juli 2013

A STUDY IN SCARLET ( Bab 1 MR. SHERLOCK HOLMES )

Bab 1
MR. SHERLOCK HOLMES

PADA TAHUN 1878 aku mengambil gelar Doctor of Medicine di Universitas London, dan meneruskan pendidikanku di Netley untuk menjalani kursus ahli bedah di Angkatan Perang. Setelah menyelesaikan studiku, aku bergabung dengan Fifth Northumberland Fusiliers sebagai asisten ahli bedah. Pada waktu itu Resimen ditempatkan di India, dan sebelum aku bisa bergabung, perang kedua di Afghan telah terjadi. Begitu mendarat di Bombay, aku sadar bahwa tubuhku telah melewati perbatasan, dan sudah terlalu jauh masuk ke negeri musuh. Aku terus mengikuti petugas lainnya yang situasinya sama denganku, yaitu tiba dengan selamat di Kandahar untuk bergabung dengan resimen, dan sekaligus memulai tugas-tugas baru.
Kampanye memberikan janji-janji dan kehormatan kepada banyak orang, tetapi bagiku hanyalah bencana dan kemalangan. Aku dipindahkan dari kesatuanku dan dipekerjakan di Berkshires, aku mengabdi di sana berterpatan pada saat pertempuran fatal di Maiwand. Di sana bahuku diserang oleh peluru Jezail yang menghancurkan tulangku serta menyerempet nadi-subclavian ku. Seharusnya aku sudah berada di tangan pembunuh kejam Ghazis sekarang, namun atasanku Murray, bukan karena alasan kewajiban atau keberanian, memaksaku melewati segerombolan kuda sehingga membawaku sampai ke perbatasan Inggris dengan selamat.

scar1
Rasa sakit dan penderitaan berkepanjang menyeselimuti diriku yang lemah. Aku dipindahkan, dengan menderita sederet luka yang hebat, ke rumah sakit pangkalan di Peshawar. Selagi aku terkapar disebabkan oleh demam enteric, semacam kutukan orang India, aku terbaring dan jauh dari hal-hal seperti berjalan-jalan berkeliling bangsal bahkan sedikit berjemur di beranda. Selama berbulan-bulan hidupku penuh keputusasan, dan pada akhirnya aku perlahan-lahan sembuh serta kembali kepada diriku semula. Aku menjadi sangat lemah dan kurus, keadaan ini membuatku disegerakan kembali ke Inggris. Aku dikirimkan via pesawat pengangkut tentara Orontes, dan mendarat satu bulan kemudian di dermaga Portsmouth dengan kesehatan yang semakin memburuk. Sesampainya di Inggris, aku diberi ijin oleh pihak Pemerintah untuk menghabiskan masa penyembuhanku selama sembilan bulan berikutnya.
Aku hidup sebatang kara di Inggris, sekaligus bebas seperti udara - atau bebas sebagai orang yang berpenghasilan sebelas shilling eman sen sehari yang menjadikanku lelaki yang seharusnya. Pada kondisi ini secara alami aku bertempat tinggal di London, tempat pembuangan yang bagus bagi semua pemakai Lounge dan pemalas Kerajaan untuk membuang uangnya. Aku tinggal di hotel pribadi di sekitar Pantai. Di mana aku bisa menghilangkan suntuk, jalan-jalan, dan menghabiskan uang yang aku memiliki, sangat bebas bahkan lebih bebas dibandingkan dengan diriku yang sesungguhnya. Aku menyadari bahwa kondisi finansialku sudah sangat mengkawatirkan sehingga aku harus pergi dari kota metropolis ini dan hidup di tempat lain di suatu tempat di negeri ini atau merubah total gaya hidupku. Aku mulai dengan berfikir untuk memilih alternative ke dua yaitu meninggalkan hotel, dan menyewa tempat tinggal yang lebih murah serta berjangka empat priode.
Setelah berhari-hari maka aku sampai kepada keputusan ini. Aku berdiri di Bar Criterion. Ketika seseorang menepuk bahuku, aku menoleh ke belakang, ternyata aku mengenalinya, Young Stamford, yang tadinya menegurku di Bart. Tatapan mukanya yang bersahabat di belantara London yang agung ini adalah suatu hal yang menyenangkan bagi seseorang yang kesepian seperti diriku. Dahulunya Stamford dan aku belum pernah seakrab ini, tetapi sekarang aku meladeninya dengan antusias, dan dia, pada giliranya muncul untuk mengunjungiku. Dalam suasana gembira, aku mengajak dia makan siang dengan di Holborn, dan kami mulai ngobrol.
“Apa yang terjadi pada dirimu, Watson?” ia bertanya dengan terang-terangan, seperti merayap menembus jalanan London yang penuh sesak. “kau sama kurusnya dengan penggaris dan kulitmu sama coklatnya dengan kacang.”
Aku memberikan gambaran singkat tetang petualanganku, dan dengan susah payah menyimpulkannya saat kami mencapai tujuan.
“Orang malang!” katanya, dengan penuh kasihan, setelah ia mendengarkan kemalanganku. “Apa yang mau kau lakukan sekarang?”
“Mencari penginapan,” jawabku. “Berusaha untuk mendapatkan ruang yang nyaman dengan harga layak.”
“Aneh sekali ya…,” kata rekanku; “dalam satu hari ini, sudah dua orang berekspresi seperti itu kepadaku, termasuk kau.”
“Dan siapa yang pertama?” Tanyaku.
“Seorang teman yang sedang bekerja di laboratorium kimia di rumah sakit. Pagi ini dia meratapi dirinya sendiri karena tidak bisa menemukan seseorang yang mau berbagi beberapa ruangan yang bagus dengannya yang terlalu sulit untuk ditanggungnya sendiri.”
“Astaga!” Aku berteriak; “jika dia benar-benar ingin seseorang untuk berbagi ruang dan biayanya, aku orang yang tepat untuknya. Aku lebih suka punya partner ketimbang sendirian.”
Young Stamford memandangku dengan cara yang aneh di atas gelas winenya. “kau belum tahu Sherlock Holmes sedikitpun,” katanya; “barangkali kau tidak akan tahan berteman dengannya.”
“Kenapa, apa ada yang salah dengannya?”
“Oh, aku tidak bilang ada yang salah dengannya. Pemikirannya sedikit aneh dan terlalu antusias terhadap beberapa cabang sains. Sejauh yang aku tahu, dia adalah pekerja yang cukup taat peraturan.”
“Apa dia Mahasiswa Kedokteran?” kataku.
“Bukan - Aku ngak tahu apa keahlianya. Aku percaya ia ahli di bidang anatomi, dan salah satu ahli kimia terbaik; tetapi, sejauh yang aku tahu, ia belum pernah mengambil kelas medis. Studinya sangat eksentrik dan tak teratur, tetapi pengetahuannya lebih banyak dibandingkan dengan profesornya.”
“Tak pernahkah kau tanyai dia apa yang dikerjakannya?” Tanyaku.
“Tidak; dia bukanlah orang yang mudah diprediksi, meskipun begitu ia cukup komunikatif ketika kita tanya seputar khayalannya.”
“Aku perlu menemuinya,” Kataku. “Jika aku akan indekos dengan seseorang, aku perlu belajar menyukai orang itu dan mempelajari kebiasaannya. Aku tidak cukup kuat untuk bertahan di keramaian. Aku sudah bosan dengan keadaanku seperti di Afghanistan keamarin. Bagaimana aku bisa menemui temanmu ini?”
“Dia pasti sedang di laboratorium sekarang,” jawab rekanku. “Ia tidak akan meninggalkan tempat itu selama berminggu-minggu, kecuali bekerja di sana dari pagi sampai malam. Jika kau suka, kita bisa berkeliling-keling setelah makan siang.”
“Pasti,” Jawabku, dan percakapan pun beralih ke topik yang lain.
Ketika kami memutuskan untuk pergi ke rumah sakit, setelah meninggalkan Holborn, Stamford memberiku lagi sedikit nasihat untuk menghadapi pria yang akan kujadikan teman indekosku ini.
“Kau jangan menyalahkan aku jika tak merasa cocok dengannya,” katanya; “Aku tidak tahu lebih banyak lagi tentang dia. Pengetahuanku tentang dia hanya sebatas yang aku pelajari dari pertemuan di laboratorium. Kau yang menginginkan pertemuan ini, jadi jangan minta pertanggungjawaban ku.”
“Jika kita tidak berhasil, akan lebih mudah untuk kita berpisah,” Jawab ku. “Nampaknya aku juga begitu, Stamford,” Aku menambahkan, sambil melihat rekan ku dengang rasa tak enak, “Alasanmu untuk tidak terkait menyangkut perihal ini. Adalah karena perangai orang ini yang sangat hebat, atau apa? Jangan bicara ngak jelas seperti itu dong.”
“Tidak mudah untuk mengekspresikan hal yang susah diekspresikan,” ia menjawab dengan tawa. “Bagiku, Holmes sedikit terlalu ilmiah dan mendekati berdarah-dingin. Aku bisa bayangkan dia memberi temannya secuil sayuran alkaloida yang terakhir, bukan karena ia dengki, kau tahu kan…, tetapi sederhananya dia selalu bersemangat nuntuk memastikan keakuratan efek dari sebuah gagasan. Untuk melakukan keadilannya, aku pikir dia bersedia diperlakukan sama jika dia di posisi tadi. Ia tampak gemar akan kenyataan dan ilmu pasti.”
“Ya bagus lah kalau begitu.”
“Ya, tetapi mungkin saja terlalu berlebihan. Ketika waktunya tiba untuk memukul subjek di ruang potong dengan tongkat, pasti berubah jadi bentuk yang agak aneh.”
“Memukul subjek”
“Ya, untuk memverifikasi berapa banyak memar yang mungkin diproduksi setelah kematian. Aku melihatnya dengan mataku sendiri.”
“Tapi kau bilang tadi dia bukan mahasiswa kedokteran?”
“Tidak. hanya Tuhan yang tahu bidang studi apa yang diambilnya. Namun kita sudah sampai di sini, dan kau harus membentuk kesanmu sendiri tentangnya.” Begitulah katanya, kami menuruni jalan setapak yang sempit dan melintas pintu samping yang kecil, yang terbuka menuju bagian samping rumah sakit yang besar. Aku sudah terbiasa dengan suasana rumah sakit ini, dan tidak perlu dipandu ketika kami menaiki tangga batu yang berwarna pucat dan jalan di koridor panjang yang dindingnya bercat putih dan pintu berwarna dun. Mendekati ujung jalan yang melengkungan rendah dan bercabang menuju laboratorium kimia.
Kamar yang tinggi, bergaris-garis dan dipenuhi dengan botol tak terhitung jumlahnya. Meja yang lebar dan rendah berserakan, tabung destilasi berdiri tegak, tabung-reaksi, dan Lampu Bunsen kecil, dengan kedipan nyala api biru. Hanya ada satu siswa di ruang itu, yang sedang membungkuk ke depan meja dan larut dengan pekerjaannya. Bunyi langkah kaki kami membuatnya menoleh ke arah kami dengan sangat gembira. “Aku menemukannya! menemukannya,” Teriaknya kepada rekanku, berlari ke arah kami dengan tabung reaksi di tangannya. “Aku sudah menemukan re-agent yang mempercepat haemoglobin, dan bukan yang lain.” Dia seperti menemukan tambang emas, kesenangan di paras wajahnya tidak bisa dilukiskan lagi.
scar2
“Dr. Watson, Mr. Sherlock Holmes,” kata Stamford, memperkenalkan kami.
“Apa kabar?” katanya dengan ramah, menggenggam tanganku dengan kuat, sepertinya aku sudah memberinya kredit. “Anda pernah ke Afghanistan, ku rasa.”
“Bagaimana anda bisa tahu?” tanyaku, dengan terkejut.
“Bukan apa-apa,” katanya, tertawa kecil sendiri. “Pertanyaan sekarang adalah tentang haemoglobin. Kau lihat penemuanku ini? Tidak diragukan lagi.”
“Secara kimiawi hal ini menarik, tidak diragukan,” Jawabku, “tetapi secara praktik–”
“Kenapa, bung, ini penemuan medico-legal yang paling praktis selama bertahun-tahun. Tahukah anda bahwa itu memberi kita tes yang layak untuk noda darah? ke sini sekarang!” Ia meraih lengan jaketku dengan sangat berhasrat, dan menunjukkan meja kerjanya kepadaku. “Andaikan kita punya darah segar,” katanya, sambil menusuk jari nya, lalu menteteskan darahnya ke dalam pipet tetes. “Sekarang, aku menambahkan sedikit darah ini ke 1 liter air. kau pasti merasa bahwa campuran yang dihasilkan mewakili air murni. Proporsi darah tidak bisa lebih dari satu per sejuta. Aku tak punya keraguan, walaupun begitu, kita harus memperoleh karakteristik reaksinya.” Selagi ia bicara, Ia meletakkan nya ke dalam bejana dengan sedikit kristal putih, dan kemudian menambahkan beberapa tetes cairan transparan. Segera muatan itu diasumsikannya berwarna kayu mahoni jemu, dan debu kecoklat-coklatan bergerak cepat ke dasar guci kaca.
“Ha! ha!” ia berteriak gembira, menepukkan tangan nya, dan berseri-seri seperti anak dengan mainan baru. “Apa pendapat anda?”
“Tampaknya tes berjalan baik,” Kataku.
“Benar sekali! benar Sekali! Tes Guaiacum klasik adalah tes yang sangat canggung dan tidak-pasti. Jadi apakah layak sebagai penguji mikroskopik untuk sel darah. Dan kemudian, tidak ada gunanya jika noda dibiarkan beberapa lama. Sekarang, inilah solusinya, jika darah dalam kondisi baru atau tidak. Pernahkan tes ini ditemukan, ada beratus-ratus manusia yang sekarang berjalan di atas bumi ini yang dulunya harus dihukuman atas kejahatan mereka.”
“Tentu saja!” bisikku.
“Perkara pidana terus-menerus bergantung pada hal ini. Seseorang diputuskan untuk dijadikan tersangka memakan waktu kurang lebih satu bulan. Pakaian atau pelapisnya diuji dan noda kecoklat-coklatan ditemukan di atasnya. Apakah itu noda darah, noda lumpur, noda karat, noda buah, atau apapun itu. Bagi para ahli bisa menjadi pertanyaan yang membingungkan, tapi mengapa? Sebab tidak ada pengujian yang dapat dipercaya. Sekarang kita punya tes Sherlock Holmes, dan tidak akan ada lagi kesulitan.”
Matanya berkelip kala ia bicara, dan meletakkan tangan di dadanya serta membungkuk seolah-olah mendapat tepuk tangan yang meriah.
“Kau pantas diberi selamat,” kataku, melihat gairahnya yang meluap-luap.
“Ada kasus Von Bischoff di Frankfort tahun lalu. Ia pasti sudah digantung jika tes ini ada. Kemudian ada Tukang batu dari Bradford, sang terkenal Muller, Lefevre dari Montpellier, dan Samson dari New Orleans. Aku bisa memberi penilaian pada kasus-kasus itu, di mana penilaian itu akan mempengaruhi keputusannya.”
“Kau seperti Kalender Kejahatan berjalan,” kata Stamford tertawa. “Kau mungkin bisa mulai dengan membaca koran di rubrik kriminal. cari saja di surat kabar Police News edisi yang sudah lewat.’”
“Bacaan yang Menarik, bagus juga,” kata Sherlock Holmes, sambil melengketkan potongan kecil plester di jarinya yang luka. “Aku harus hati-hati,” lanjutnya, sambil berbalik tersenyum ke arahku, “karena Aku akan mencoba memercikinya dengan racun.” Ia menahan tangannya sambil bicara, dan benar saja jarinya yang luka tadi dibubuhinya dengan bintik beraneka warna dan dibalut dengan selembar potongan plester, dan dikotori dengan asam kuat.
“Kami datang ke sini untuk sebuah urusan,” kata Stamford, yang sedang duduk di bangku tinggi berkaki-tiga, dan mendorong bangku yang lain ke arahku dengan kakinya. “Temanku ke sini untuk menanyakan sesuatu; dan seperti keluhanmu waktu itu, aku pikir sebaiknya ku jumpakan kalian berdua.”
Sherlock Holmes tampaknya gembira atas gagasan untuk membagi ruangannya dengan aku. “Aku sudah lihat deretan pemukiman di Baker Street,” katanya, “yang akan sesuai untuk kita tempati. Aku harap kau tidak keberatan dengan bau kuat tembakau.”
“Aku selalu merokok,” Jawab ku.
“Itu sudah cukup. Aku biasanya menyimpan bahan-kimia, dan adakalanya mengadakan eksperimen. Apakah itu mengganggumu?”
“Tidak sama sekali.”
“Baiklah, biar aku jelaskan dahulu. Kadang-kadang Aku ingin menyendiri, dan tidak berbicara selama berhari-hari. Jangan kira aku sedang merajuk ketika melakukan itu. Biarkan saja aku sendiri, dan Aku akan segera normal kembali. Apa kau punya keluhan sekarang? Adalah penting bagi dua orang untuk saling mengetahui kebiasan buruk satu sama lain sebelum mereka tinggal bersama.”
Aku tertawa atas tanya-jawab ini. “Aku memelihara anak anjing bull,” kataku, “dan aku keberatan akan adanya hal-hal yang mengejutkan karena aku orangnya panikan, dan aku punya jam-jam untuk gila-gilaan, dan aku orang yang sangat malas. Aku punya sederetan sifat buruk lainnya jika sedang bahagia, tetapi yang tadi itu merupakan hal yang utama sekali.”
“Apakah bermain biola juga termasuk kategori burukmu?” tanyanya, dengan penuh hasrat.
“Tergantung permainanmu,” Jawabku. “Permainan biola yang baik bagaikan persembahan untuk Tuhan dan sebaliknya–”
“Oh, baiklah,” teriaknya, sambil tertawa. “Aku pikir kita bisa pertimbangkan hal tersebut segera setelah kau suka tempatnya.”
“Kapan kita lihat rumahnya?”
“Besok siang, temui aku di sini, dan kita akan berangkat bersama-sama dan menyiapkan segalanya,” jawabnya. “Baiklah, besok siang,” kataku sambil menjabat tangannya. Lalu kami pergi dan meninggalkannya sendiri, bekerja dengan bahan-bahan kimia, dan kami berjalan bersama-sama ke arah hotelku.
“Ngomong-ngomong,” tanyaku tiba-tiba, sambil berhenti dan berputar ke arah Stamford, “bagaimana dia tahu aku pernah ke Afghanistan?”
Rekanku tersenyum enigmatical. “Itu baru sedikit keanehan kecilnya,” katanya. “Sebagian besar orang ingin tahu bagaimana ia menemukan hal-hal tersebut.”
“Oh! sungguh misterius, ya kan?” Aku merinding, sambil menggosok tanganku. “Menarik sekali. Aku berhutang budi kepadamu karena telah menjumpakan kami berdua. ‘untuk mengerti seseorang kita harus langsung bertemu orang itu sendiri,’ ya kan…”
“Kau harus mengerti dia, kemudian,” kata Stamford, seperti menyuruhku mengucapkan selamat jalan.
“Kau akan lihat saja nanti.., dia akan bermasalah lebih dulu. Aku berani bertaruh ia akan memahamimu lebih banyak dibanding kau memahami dia. Good-Bye.”
“Good-Bye,” Jawabku, sambil berjalan ke arah hotelku, sambil memikirkan kenalan baruku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar