Rabu, 16 Januari 2013

Bumi Cinta ( Part 26 )

Bumi Cinta
Karya : Habiburrahman El Shirazy

DILARANG COPY PASTE UNTUK TUJUAN KOMERSIAL !!!

26. Jenis-jenis Athéisme

Jika pagi datang, orang yang lalai akan berpikir apa yang harus dikerjakannya. Sedangkan orang yang berakal akan berpikir apa yang akan dilakukan Allah kepadanya." Kata-kata Ibnu Athaillah itu kembali berdengung-dengung di telinganya begitu ia terbangun dari tidurnya. la melihat jam. Ia beristighfar. Waktu untuk melaksanakan shalat Subuh tinggal seperempat jam saja. Jika tidak cepat-cepat ia bisa kehilangan waktu yang penuh barakah itu. Tadi malam, ia akhirnya baru bisa tidur menjelang pukul tiga dini hari. Ia merasa Allah menolongnya dengan tetap bisa bangun dan masih bisa mengerjakan shalat Subuh tepat pada waktunya, meskipun kali ini tidak di awal waktu.
Usai shalat Subuh, seperti biasa, ia membaca Al-Quran, zikir pagi, dan kali ini membaca kitab kecil tipis berjudul "NahwalMdaali"'yang ditulis dengan bahasa yang indah oleh Syaikh Muhammad Ahmad Al Rasyid. Ada sebuah sajak yang indah di sana:
Kuatkan ikatan tekad angkat tinggi-tinggi bendera harapan berjalanlah menuju Allah dengan sungguh-sungguh, tanpa lelah jika rasa lemah menyerangmu isi jiwamu dengan kekuatan Al-Quran libas nafsumu, jangan kasih ampun nafsu selalu mengajakmu menuju kebinasaan.
Sajak pendek itu seolah memberinya harapan dan kekuatan. Ia harus tegas menguatkan tekad.
Ia harus kembali mengangkat bendera pengembaraannya menuju Allah. Ia tidak boleh lemah hanya karena ciuman seorang Anastasia. Dan ia tidak boleh memberi ampun sedikit pun kepada hawa nafsunya. Ya hawa nafsunya yang telah membuat seluruh syarafnya bereaksi ketika dicium oleh seorang Anastasia Palazzo. Ia langsung menguatkan azam dan berjanji akan melibas habis nafsu yang hendak melemahkan jiwanya dan menyeretnya ke jurang kebinasaan.
Langkah pertama kali yang ia tempuh adalah tidak memberi harapan sedikit pun kepada nafsunya untuk mengindera segala hal yang berkaitan dengan Anastasia. Jika ia memberikan satu lubang jarum saja kepada nafsunya untuk mengindera segala hal yang ada hubungannya dengan Anastasia, ia merasa nafsunya akan menang dan ia akan melemah kalah.
Sebab, ciuman itu, meskipun tidak ia harapkan dan sama sekali tidak ia duga, telah meninggalkan virus yang kini masih bercokol di dalam hatinya.
Dan istighfarnya yang beratus-ratus kali itu, ia rasakan belum mampu membersihkan virus tersebut di dalam hatinya. Tak ada jalan lain untuk selamat baginya kecuali ia harus melibas habis nafsunya, tanpa ampun.
Ayyas terus membaca baris demi baris dan halaman demi halaman buku tipis itu. Hari ini ia menjadwalkan untuk menghabiskan buku itu.
Setelah itu ia akan membaca ulang kitab Adabud Dunya Wad Din yang tulis oleh Imam Al Mawardi. Ia rindu sekali membaca kitab itu.
Kitab yang memang ia siapkan untuk menemaninya selama di Moskwa. Ia rindu pada nasihat dan pendapat brilian pakar fikih yang bijaksana
itu.
Pagi itu sampai agak siang Ayyas tidak keluar dari kamarnya. Ia asyik membaca. Ketika alarm di ponselnya berdengking-dengking, ia menutup bukunya dan bangkit shalat. Itu adalah waktunya shalat Dhuha. Setelah itu ia kembali membaca.
Ketika ia merasa agak jenuh, ia melakukan olahraga ringan di kamarnya. Ia melakukan olah pernafasan, lalu sedikit memainkan jurus Thifannya.
Ia sama sekali tidak sadar, ada kamera yang memantaunya, dan ada sepasang mata yang melihat kegiatannya. ,
Ketika sedang asyik berolahraga dengan memainkan jurus-jurus bela diri yang dikuasainya, seseorang mengetuk pintu kamarnya. Ia menghentikan kegiatannya dan membuka pintu kamarnya. Wajah perempuan tua yang gemuk muncul di hadapannya.
"Kau pasti belum makan pagi. Ayo makan bersama kami. Aku sudah siapkan teh panas, sup borsh, kentang rebus, dan cyorni khleb (roti hitam). " Bibi Margareta berbicara dengan wajah cerah, dan matanya.yang kebiruan Nampak berbinar.
"Dengan senang hati, Bibi." Jawab Ayyas.
Bibi Margareta kemudian melangkah mengetuk pintu kamar Linor. Ia juga menawarkan hal yang sama pada Linor. Nampaknya Linor juga tidak keberatan. Ayyas membersihkan mukanya, dan merapikan pakaiannya lalu keluar kamar. Linor juga keluar dari kamarnya, dengan pakaian yang sopan. Kaos lengan panjang berwarna coklat muda, dan celana santai berwarna putih gading.
Linor berwajah cantik, hanya saja nampak dingin dan keras. Jika ia membuang tampang dingin dan kerasnya itu, maka mukanya adalah jenis muka yang sangat sedap dipandang siapa saja.
"Bibi Margareta, Mana Yelena?" Tanya Linor datar.
"Masih di kamarnya, mungkin masih mandi." Jawab Bibi Margareta.
"Apa dia sudah benar-benar pulih?" Tanya Ayyas.
"Aku rasa dia sudah benar-benar pulih. Hanya tangannya yang patah itu kelihatannya masih merasakan sedikit sakit. Ia sering mengeluh tentang tangannya yang patah."
"Aku rasa tangannya sebentar lagi pulih. Ia ditangani dokter bedah tulang terbaik yang biasa menangani para pemain Spartak jika cedera patah kaki atau lainnya." Sahut Linor.
"Kau tidak kerja hari ini?" Tanya Ayyas pada Linor.
"Satu jam lagi aku berangkat. Aku ada rapat redaksi."
"Kantormu di mana letaknya?"
"Di daerah Leninsky Prospekt. Ada gedung berarsitektur metropolis, terlihat banyak kaca dan tiang-tiangnya dilapisi stainless itu kantor saya. Kau sudah baca koran hari ini?"
"Belum. Kau sudah?"
"Belum juga. Cuma aku sudah membaca sebagian besar headline koran di internet. Seminarmu kemarin dimuat di beberapa koran. Koran Pravda sangat menyanjung kamu, dan mengkritik habis Viktor Murasov."
"Seminar kemarin memang layak jadi berita besar," tiba-tiba Yelena menyahut dari depan pintu kamarnya.
Ayyas tidak melihat kapan Yelena membuka pintu dan keluar dari kamarnya.
"Victor Murasov yang diidolakan banyak anak muda itu sama sekali tak berkutik. Bintangnya kalah terang dengan bintangmu."
Lanjut Yelena sambil memandang Ayyas.
"Bibi, kau masih sibuk apa di dapur?" Yelena berkata lagi.
"Ini, membuat omelet." Sahut Bibi Margareta.
"Cepatlah sedikit Bibi, ayo kita makan bersama." Kata Yelena.
"Kalian duluan saja. Mulai saja." "Ayo kita mulai." Pelan Yelena.
Yelena mengambil cyorni khleb atau roti hitam dan menyantapnya dengan sup borsh.
Linor memasukkan sekerat kentang rebus ke mulutnya.
Ayyas menyendok sup dari mangkuk kecil di hadapannya dan menyeruputnya pelan. Sup itu memang khas Rusia. Diseruput saat masih panas di musim dingin sungguh nikmat.
"Kelihatannya kau sangat mengusai filsafat dan sejarah filsafat?" Gumam Linor sambil memandang Ayyas.
"Hanya pernah belajar saja." Jawab Ayyas.
"Argumentasimu kemarin semakin membuatku percaya bahwa Tuhan itu ada. Selama ini aku meyakini seperti yang diyakini oleh Viktor Murasov. Dia termasuk orang yang pikiran-pikirannya aku gemari, tetapi ternyata aku keliru mengikuti pikirannya."
"Kalau Viktor Murasov benar mengagungkan ilmu pengetahuan. Justru ilmu pengetahuan itu mengukuhkan keberadaan Tuhan. Setiap saat selalu ada penelitian ilmiah yang membuktikan besarnya kekuasaan Allah. Bukti-bukti ilmiah yang menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Allah sudah tidak terhitung lagi." Ayyas menghentikan aktivitas menyeruput sup itu demi merespons
kata-kata Yelena.
"Kemarin, kalau aku tidak salah menangkap, kau menyinggung tentang jenis-jenis athéisme, selain athéisme yang dibawa oleh Nietzsche yang kemudian ditiru oleh Viktor Murasov. Benar?" Ujar Yelena.
"Benar. Yang dikemukakan Nietzsche itu jenis athéisme optimisme. Selain, itu ada athéisme materialisme, athéisme psikologi, athéisme marxisme, athéisme eksistensialisme, dan athéisme neo positivisme."
"Aku perlu penjelasan tentang macam-macam athéisme itu darimu, agar aku mengerti dan tidak terjebak pada cara berpikir yang salah lagi. Bisa kau jelaskan?"
"Bisa. Jadi, sebenarnya athéisme yang paling kuno adalah..."
Tiba-tiba Linor memutus, "Tahan sebentar, saya harus ke kamar sebentar. Tolong ditahan sebentar saya juga ingin mendengar keterangan itu. Sebentar saja ya!" Linor langsung bergegas ke kamarnya. Ternyata di kamarnya, tanpa sepengetahuan yang lain ia sedang mempertajam alat sadapnya. Ia ingin merekam semua yang dikatakan Ayyas untuk nanti bisa dianalisis orang seperti apa Ayyas sebenarnya. Setelah yakin bahwa ia akan bisa merekam dengan baik, ia kembali ke ruang tamu.
"E, sudah bisa dilanjutkan." Ucap Linor sambil duduk dan kembali mengambil kentang rebus. Ayyas menarik nafas terus menjelaskan,
"Kemarin sudah saya jelaskan, Nietzsche termasuk pemikir yang terjebak dalam athéisme, yaitu pemikiran yang mengingkari adanya Tuhan.
Nietzsche mengatakan Tuhan telah mati. Saya tidak perlu menjelaskan lagi bagaimana Nietzsche bisa sampai mengatakan begitu, kemarin sudah saya jelaskan cukup panjang. Juga sudah saya jelaskan kesalahan pemikiran dan keyakinan seperti itu.
"Dan sebenarnya jenis atheisme yang paling kuno adalah atheisme materialisme. Ini adalah jenis atheisme yang paling tua. Sudah ada sejak kuno dulu. Dan pernah berkembang di zaman Nabi Muhammad ketika diutus oleh Allah.
"Menurut orang-orang atheisme materialisme, wujud segala sesuatu didasarkan pada materi. Materi adalah segala sesuatu yang bisa ditangkap oleh indera manusia. Bisa diketahui adanya dengan diraba, dipegang, disentuh, dicium, ditangkap, dilihat dan seterusnya. Kursi itu ada karena manusia bisa menyentuhnya, bisa merabanya.
Udara itu ada karena udara bisa dihirup dan dirasakan gerakannya, semilirnya, hembusannya. Cahaya itu ada karena bisa dilihat. Garam dalam kuah bakso itu ada karena bisa dirasa oleh lidah.
"Menurut mereka, hakikat alam ini adalah materi atau benda. Jiwa dan pikiran adalah materi juga, hanya sangat halus berbeda dengan materi yang lain. Dan menurut mereka segala yang tidak materi itu tidak ada. Tuhan bukan materi, Tuhan bukan benda jadi Tuhan tidak ada. Karena wujud Tuhan tidak bisa dilihat, ditangkap, diraba, disentuh, dirasa, dan diindera oleh manusia.
"Orang-orang yang berpikiran seperti itu sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad berdakwah di Makkah. Al-Quran, dalam surat Al Jaatsiyah menjelaskan, bahwa di Makkah ada sekelompok golongan yang tidak percaya adanya Tuhan dan hari kiamat. Mereka mengatakan:
'Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa!”
"Perkataan mereka, 'Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja,' adalah pengingkaran kepada kehidupan hari kemudian, hari di mana manusia dibangkitkan dari kematian. Kenapa mereka tidak percaya? Karena itu tadi, mereka berlandaskan pada materi yang bisa dilihat, diraba dan diindera. Menurut mereka alam itu ya alam dunia ini yang pada hakikatnya adalah materi. Di dunia inilah terjadi kehidupan dan kematian. Tidak ada alam selain dunia ini.
Kematian dan kehidupan menurut mereka terjadi begitu saja sesuai hukum alam. Menurut mereka, mereka mati begitu saja. Yang mematikan adalah masa atau waktu. Mereka mengatakan, 'Tidak ada yang membinasakan kita
selain masa Ini berarti, secara terang-terangan mereka tidak mengakui adanya Tuhan yang berkuasa menghidupkan dan mematikan.
'Itulah atheisme materialisme. Paham atheism yang paling tua. Paham ini mencuat kembali pada abad ke-17 dan ke-19. Di antara tokohnya yang terkenal adalah Kari Vogt, Huxely, Lamettra. Kart Vogt pernah berkata, otaklah yang melahirkan kehidupan ini. Otak melahirkan pikiran sebagaimana ginjal melahirkan air seni. Maksudnya, tidak ada wujud selain daripada materi. Tuhan bukan materi, kata Vogt. Jadi ia tidak ada."
Ayyas berhenti sejenak. Yelena meneguk tehnya, Linor mencelupkan kentang rebus ke dalam sup borshnya.
"Ada lagi atheisme psikologi." Lanjut Ayyas.
"Atheisme psikologi? Agak aneh, baru kali ini saya dengar? Di sastra Inggris dulu saya tidak mempelajari hal seperti ini samasekali." Heran Yelena.
"Bisa dikatakan aneh memang. Psikologi semestinya menguatkan keimanan seseorang akan keberadaan Tuhan. Karena psikologi adalah penjelajahan perasaan, batin, dan jiwa manusia. Semakin kenal manusia pada dirinya semestinya ia semakin dekat dengan Tuhannya. Pepatah Arab mengatakan, 'Man arofa nafsahu arofa Rabbahuf Artinya, siapa yang mengenal dirinya pasti mengenal Tuhannya. Namun ternyata ada beberapa ahli psikologi sesat yang menggunakan alas an psikologi sebagai dalil mengingkari adanya Tuhan."
"Misalnya siapa?" Sahut Yelena. Linor hanya diam mendengarkan.
"Sigmund Freud dan Ludwig Van Feuerbach," jawab Ayyas.
"Itu nama yang tidak asing, sangat terkenal." Gumam Yelena.
"Benar. Kita tahu keduanya ahli psikologi Jerman pada abad ke-I9. Mereka berdua mengingkari Tuhan dengan alasan psikologi.
Menurut mereka bertuhan adalah jiwa kekanak-kanakan yang dibawa hingga dewasa. Menurut Freud, saat kecil manusia lemah. Ia mengalami banyak kekurangan untuk memenuhi kebutuhannya.
Meja begitu tinggi bagi seorang bocah. Ia tidak bisa menggapai benda di atasnya. Kursi terasa berat, ia tidak kuat mengangkatnya. Ia melihat ayahnya bisa melakukan apa saja. Mengambil benda di atas meja. Mengangkat kursi. Begitu mudah. Ia kagum pada ayahnya. Ayahnya ia lihat mahakuasa. Ia menjadi sangat memerlukan ayah.
Ketika anak itu sudah dewasa ia menciptakan Tuhan dalam benaknya. Tuhan yang ia sebut dalam doanya untuk memenuhi keinginan-keinginannya.
Persis waktu ia kecil dulu saat minta ayahnya. Jadi Tuhan, menurut Freud, hanya rekayasa manusia saja untuk ia jadikan tempat bertumpu atas segala keinginannya. Freud mengingkari adanya Tuhan dengan alasan seperti itu.
Agama menurut Freud dan Freuebach hanyalah cerminan keinginan manusia."
"O, jadi Freud juga mengingkari adanya Tuhan ternyata?"
"Ya, benar."
"Jenis atheisme berikutnya?
"Ini jenis atheisme yang tidak asing bagi kalian orang Rusia, yaitu atheisme marxisme. Inilah atheisme yang paling populer di abad modern ini. Di negeri kalian inilah jenis atheisme ini pernah jadi ideologi negara. Tentu saja kalian sangat hafal pencetus atheisme ini adalah Karl Marx. Kemudian diteruskan oleh Lenin, dikukuhkan oleh Stalin, dan dilestarikan oleh para penerusnya.
Marxisme inilah yang melahirkan komunisme. Dan pernah berkembang dengan kecepatan luar biasa, sampai-sampai hampir sepertiga penduduk
dunia memeluknya. Di Indonesia ideology marxisme dan komunisme pernah hidup dan berkembangan pesat. Ideologi itulah yang menjadi jiwa Partai Komunis Indonesia atau PKI, yang hampir meruntuhkan Republik Indonesia
dengan pemberontakan G 30/S PKI pada tahun 1965.
"Karl Marx membangun ideologinya yang mengingkari Tuhan dengan menggabungkan atheisme materialisme dan atheisme psikologi. Ia terang-terangan memusuhi Tuhan dan memusuhi agama. Ia mengatakan agama adalah candu masyarakat. Ia menyerukan untuk memberantas agama. Karena ia memandang agama adalah khayalan manusia yang gagal membangun surge di dunia, lalu ingin membangun surga di akhirat.
Surga di akhirat hanya khayalan belaka. Agama merusak pikiran manusia. Begitu menurut dia. Sebaliknya marxisme yang dia bawa mengajak manusia mendirikan surga di dunia. Dunia adalahsegalanya, manusia harus membangun surganya di dunia. Begitulah inti pemikiran Karl Marx."
"Masih ada dua macam ya kalau tidak salah?" tanya Yelena.
"Ya, masih ada dua macam atheisme. Pertama atheisme eksistensialisme, tokohnya bernama Jean Paul Sartre dari Perancis, dan kedua atheism neo positivisme tokohnya Moritz Schilck dan kawan-kawannya dari kelompok pemikir Wina."
"Terus runtutan pemikiran atheisme eksistensialisme dan atheisme neo positivisme seperti apa?"
Ayyas mengerutkan keningnya. Ia diam sebentar, kemudian berkata,
"Terus terang yang dua terakhir ini saya agak lupa. Saya khawatir kalau menjelaskan nanti malahsalah. Saya tidak boleh asal bicara. Ini masalah
ilmiah, ada pertanggungjawaban ilmiahnya. Untuk yang dua macam ini kau cari sendiri di buku-buku bacaan. Yang jelas inti pemikiranmereka sama dengan jenis atheisme yang lainnya, yaitu tidak mengakui adanya Tuhan.
Tuhan dianggap khayalan manusia. Manusialah yang menciptakan Tuhan dalam otaknya, bukan Tuhan yang menciptakan manusia. Begitu pemikiran dan keyakinan mereka!"
"Baiklah. Manusia memang terkadang lupa. Tak apa. Sekarang kalau boleh, saya ingin tahu di mana letak kesalahan masing-masing atheism itu? Kalau atheisme optimisme yang dicetuskan oleh Nietzsche sudah runtuh, kau runtuhkan argumennya. Dasar falsafahnya sangat lemah dan jauh dari kebenaran. Sekarang bagaiman dengan atheisme materialisme yang lain?" Yelena menyela penjelasan Ayyas.
"Mari kita bahas satu per satu. Kita mulai dari atheisme materialisme. Mereka meniadakan Tuhan dengan alasan Tuhan bukan materi. Tuhan tidak ada karena tidak bisa ditangkap panca indera," sahut Ayyas.
Ayyas kemudian melanjutkan penjelasannya,
"Alasan para penganut faham materialisme itu sangat lemah. Pada kenyataannya manusia mengakui adanya sesuatu yang bukan materi.
Misalnya hukum. Hukum itu non materi. Dan hukum itu ada. Diakui semua manusia termasuk para pengikut materialisme. Contoh lain adalah ide. Siapa bisa mengindera ide? Ide diakui ada begitu saja dalam pikiran manusia. Ide. Tapi ide itu ada. Juga spirit. Spirit ada begitu saja, masuk dalam jiwa manusia. Sama seperti ide, spirit tidak bisa dilihat, disentuh, dicium atau dirasa dengan
panca indera. Tapi spirit itu ada, tak ada yang mengingkarinya."
Yelena berhenti sejenak. Tangan kanannya mencuil roti hitam dan memasukkan ke dalam mulutnya. Sementara Linor tetap diam memerhatikan
dengan tetap menyantap hidangan makan pagi itu pelan-pelan.
Ayyas menyambung,
"Contoh lainnya lagi waktu. Siapa bisa melihat waktu? Waktu bukan benda. Bukan materi. Tidak bisa ditangkap indera manusia. Dengan kamera secanggih apa pun manusia tidak bisa memotret waktu, bentuknya seperti apa. Sebab waktu memang bukan benda, bukan materi. Tapi waktu itu ada, tak ada yang menyangkalnya.
Otak manusia meyakini begitu saja waktu itu ada. Jadi, banyak sekali hal-hal yang non materi yang diakui keberadaannya oleh manusia. Jika mereka bisa mengakui adanya  hukum, ide, spirit dan waktu yang bukan materi, yang tidak bisa ditangkap panca indera, kenapa mereka mengingkari adanya Tuhan? Jadi, alasan mereka mengingkari adanya Tuhan itu sangat lemah.
Tuhan itu ada, sebagaimana waktu ada. Bahkan, Tuhanlah yang menciptakan waktu dan segala yang ada!"
"Kalau atheisme psikologi yang dibawa Freud dan Feuerbach lemahnya dari sisi apanya, Ayyas?"
Gumam Yelena sambil mengunyah roti hitam.
"Dari segala sisinya lemah. Dari awal sampai akhir dasar falsafah mereka lemah. Kita Tanya pada anak-anak kecil di sekitar kita tentang Tuhan, mereka akan menjawab Tuhan itu ada. Jadi pengalaman psikologi seperti yang digambarkan Freud sangat jauh dari kebenaran. Freud menggambarkan, ketika orang sudah dewasa dia menciptakan Tuhan dalam benaknya. Yaitu
Tuhan yang dia sebut dalam doanya untuk memenuhi keinginan-keinginannya. Persis waktu ia kecil dulu saat minta tolong ayahnya. Ini sungguh gambaran yang sangat lucu sekali. Bagaimana dengan orang yang sejak kecil telah mengenal Tuhan, dan mengakui Tuhan itu ada?
Atau bagaimana dengan anak yatim piatu yang tidak punya bapak dan tidak punya ibu. Hidup sebatangkara sejak kecil, namun ketika dewasa mengakui adanya Tuhan. Apakah Tuhan yang diakuinya terlahir dalam benaknya sekadar untuk memenuhi keinginan-keinginannya, persis waktu ia kecil dulu saat minta tolong ayahnya. Bagaimana ia punya pengalaman minta tolong pada ayahnya padahal ia tidak punya ayah?"
Sampai di situ Ayyas berhenti sebentar. Ia mengambil cangkirnya dan menyeruput tehnya yang mulai dingin. Ia kembali angkat suara,
"Freud dan Feuerbach sama-sama meyakini bahwa agama tak lain hanyalah cerminan keinginan manusia. Karenanya, agama juga khayalan otak manusia belaka. Pertanyaannya, benarkah agama itu merupakan keinginan-keinginan?
Kodrat manusia menghendaki terpenuhi secara baik kebutuhan jasmani dan ruhaninya. Nafsu seks manusia menghendaki perhenuhan dengan wanita mana saja tanpa batasan atau larangan. Demikian pula nafsu perutnya.
Tetapi agama melarang pemenuhan demikian.
Manusia wajib memenuhi tuntutan perut dan seksnya dengan beberapa aturan. Manusia wajib menjaga dorongan seksnya. Manusia tidak boleh melampiaskan keinginan seksnya kecuali pada pasangannya yang sah. Manusia tidak boleh mengisi perutnya kecuali dengan yang halal. Manusia
harus mengerjakan shalat, puasa, membayar zakat, shadaqah dan itu bukan suatu keinginan.
Tapi kewajiban dan tuntutan yang diajarkan agama.
"Jika manusia merupakan keinginan, mengapa banyak rasul yang membawa agama itu justru menderita, disingkirkan, diteror, bahkan ada yang dibunuh. Jika agama cerminan keinginan, seharusnya semua rasul diterima dengan penuh suka cita oleh kaumnya. Kenyataannya adalah sebaliknya. Jadi tidak benar agama merupakan keinginan-keinginan. Dan tidak benar anggapan
Tuhan hanya rekaan benak manusia. Tuhan memang benar-benar ada. Dan agama yang benar seperti Islam adalah agama yang diwahyukan Tuhan. Bukan cermin keinginan-keinginan manusia!"
"Berarti tinggal Karl Marx." Kata Yelena.
"Marx mendasarkan falsafahnya pada materialism dan pemikiran Freuerbach. Dan satu per satu telah kita runtuhkan di depan. Kita tinggal melihat alasan kebenciannya pada agama. Marx mengatakan agama adalah candu yang meninabobokan manusia kepada kehidupan khayali. Pernyataannya itu tidak berlaku untuk semua agama, terutama Islam. Islam itu tidak hanya membangun kebahagiaan di akhirat, tetapi juga kehidupan di dunia. Bahkan dunia ini dijadikan sebagai ladang kebahagiaan akhirat.
"Rasul Islam yaitu Muhammad Saw. Menyeru kepada umatnya untuk bekerja keras membangun kejayaan duniawi, sebagaimana menyeru umatnya beribadah sebaik-baiknya untuk membangun surga ukhrawi. Islam sendiri dengan terang dan tegas memerintahkan pemeluknya agar berkerja untuk dunianya seakan-akan mereka akan hidup selamanya, dan beribadah untuk akhiratnya seolah-olah mereka akan mati besok pagi!'
"Dalam hadis yang lain Rasul memberitahukan, seseorang yang bekerja untuk anak-anaknya, maka pahalanya sama dengan berjuang di jalan Allah. Beliau juga menjelaskan, harta yang diinfakkan untuk jihadfi sabilillah, harta yang digunakan untuk memerdekakan budak, harta yang diberikan pada fakir miskin dan harta yang dibelanjakan untuk keluarga, di antara semua itu,
maka yang paling besar keutamaannya adalah harta yang dibelanjakan untuk keluarga. Betapa Islam mengajak manusia mencapai kebahagiaan dunia.
"Lalu Rasulullah menegaskan, 'Dunia adalah ladang akhirat!' Kaitan dunia dengan akhirat begitu eratnya. Yang dipetik di akhirat adalah apa yang ditanam di dunia. Tanpa keberhasilan seseorang menempatkan dirinya di dunia ia tidak akan berjaya di akhirat. Islam mengajarkan keseimbangan dunia dan akhirat. Tidak boleh ada yang timpang salah satunya. Begitu Islam mengajarkan."
 "Sudah cukup jelas. Penjelasanmu runtut dan memaham-kan. Bahkan bisa membuat orang terpana. Wajar kalau pembicara yang di sampingmu yang cantik itu sampai menciummu begitu kau selesai berbicara. Kelihatannya dia jatuh cinta padamu. Siapa namanya? Anastasia Paz.. siapa... Pazzo?" Ujar Yelena sedikit meledek.
"Anastasia Palazzo." Linor membetulkan.
"Iya, Anastasia Palazzo! Kau dekat dengan dia ya? Kau kelihatan akrab sama dia?" Goda Yelena.
"Hanya kenal biasa saja." Jawab Ayyas.
"Kau suka sama dia?"
"Ah, itu bukan urusanmu. Iya kan?" Jawab Ayyas sambil tersenyum. Tiba-tiba ia jadi ingat pada Doktor Anastasia Palazzo. Dia mungkin sedang menunggunya di ruang Profesor Torpskii di kampus Universitas Negeri Moskwa atau biasa disebut MGU.
Ayyas langsung ingat ikrarnya.
Ia harus menghajar nafsunya, dan melibasnya, tanpa ampun. Ia tidak boleh memberi harapan sedikit pun kepada nafsunya untuk mengindera segala hal yang berkaitan dengan Anastasia.
Maka ia langsung mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan persoalan Yelena.
"Kau sudah menemukan jalan keluar untuk persoalanmu?" Ayyas memandang Yelena sekilas.
"Persoalan yang mana?" Yelena ganti bertanya.
"Yang berkaitan dengan Olga Nikolayenko."
Yelena langsung ingat sesuatu. Ia hampir lupa. Ia harus bergerak hari ini juga. Ia harus menjalankan semua saran dan rencana Linor sebaik-baiknya.
Ia tidak boleh gagal jika ingin hidup tenang dan merdeka di Moskwa. Maka dengan mantap Yelena menjawab,
"Untuk persoalan itu, puji Tuhan, aku sudah menemukan jalan keluar yang baik."
"Syukurlah jika demikian." Sahut Ayyas ikut senang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar