Sabtu, 16 Februari 2013

Bumi Cinta ( Part 29 )

Bumi Cinta
Karya : Habiburrahman El Shirazy

DILARANG COPY PASTE UNTUK TUJUAN KOMERSIAL !!!

29. Pergi ke Kiev

Pagi itu, tak ada tegur sapa antara Ayyas dan Linor ketika bertemu. Ayyas telah rapi ia menenteng tas ranselnya. Demikian juga Linor, juga telah rapi dan siap pergi dengan membawa tas ransel dan koper. Keduanya bertemu di ruang tamu. Keduanya nampak sama-sama ingin keluar pagi itu. Linor telah berjalan selangkah lebih dulu. Ia mengenakan sepatu musim dinginnya.
Ayyas menunggu dengan wajah dingin. Setelah Linor selesai memakai sepatunya, barulah Ayyas bergegas mengambil sepatunya.
Itu masih pagi sekali. Belum jam tujuh. Yelena dan Bibi Margareta belum terdengar suaranya.
Linor melangkah membuka pintu. Sebelum keluar, dengan muka marah dan dingin, Linor berkata kepada Ayyas,
"Hei bodoh, tunggu pembalasanku! Ingat, tunggu pembalasanku!" Ia lalu membanting pintu dan melangkah cepat.
Ayyas tersentak dengan ketidakramahan Linor pagi itu. Ia menyerahkan semuanya kepada Allah. Ia jadi teringat bagaimana marahnya Zulaikha
kepada Yusuf ketika Yusuf tidak memenuhi keinginan Zulaikha. Yusuf sampai menderita harus dipenjara bertahun-tahun.
Apakah dirinya akan mengalami nasib seperti Yusuf, ia akan dipenjara di Moskwa ini karena tidak mau memenuhi ajakan Linor? Hanya kepada Allah ia kembalikan segala urusan.
Pagi itu tujuan Ayyas adalah rumah Pak Joko. Ia ingin makan pagi dengan Pak Joko! Setelah shalat Subuh ia di-sms oleh Pak Joko untuk datang makan pagi bersama. Setelah itu ia akan ke MGU menemui Doktor Anastasia Palazzo. Ia merasa tidak bijak jika terus bersikap seperti anak-anak pada Doktor Anastasia Palazzo. Ia tetap harus menemui pembimbingnya itu. Dan ia harus berterus terang bahwa ia tidak suka dengan ciuman yang dilakukan Doktor itu setelah seminar tentang Ketuhanan waktu itu. Ia harus menjelaskan dengan detil apa yang menjadi prinsip dan pegangan hidupnya yang akan ia pegang teguh sampai ajal menjemput. Dengan penjelasan yang luas ia berharap Doktor Anastasia akan maklum dan tidak akan mengulangi lagi perbuatan yang sangat tidak diinginkannya itu.
Itu yang ia rasa harus ia lakukan. Apalagi Doktor Anastasia Palazzo sampai
mendatangi apartemennya. Itu berarti ada hal yang memang penting yang ingin disampaikan doktor muda itu kepada dirinya. Walau bagaimana
pun, setelah ia menerima Doktor Anastasia sebagai pembimbingnya selama di
Moskwa mewakili Profesor Abraham Tomskii, ia telah mengakui doktor muda itu sebagai gurunya.
Guru yang memberikan bimbingan penelitiannya. Dan sebagai santri yang pernah ngaji kitab TalimulMutdallim, ia tetap harus menghormati gurunya. Yang baik ia ambil darinya, yang tidak baik ia buang saja.
Sementara Linor, pagi itu pergi untuk mengamankan segala data yang berkaitan dengan aktivitasnya sebagai agen Israel selama ini.
Segala data dan berkas itu telah ia masukkan ke dalam koper yang dibawanya. Ia akan memindahkannya ke sebuah tempat yang tidak ada seorang pun yang tahu kecuali dirinya sendiri.
Ia harus mengamankan segala data dan segala sesuatu yang memancing kecurigaan pihak keamanan Rusia, karena tidak lama lagi akan ada pemboman Metropole Hotel yang sudah dirancang dengan detil oleh Ben Solomon dan anak buahnya. Dan semua media, juga pihak keamanan Rusia, dan nantinyal opini dunia akan digiring bahwa pelakunya adalah seorang pemuda Indonesia bernama Muhammad Ayyas, yang ternyatai anggota jaringan Islam garis keras yang berbahaya.
Pihak keamanan Rusia akan diarahkan untuk menggeledah tempat tinggal Ayyas. Dan di kamar Ayyas akan ditemukan ransel berisi bahan peledak dan buku-buku Islam, Tidak mustahil pihak keamanan Rusia juga akan menggeledah kamar Yelena dan Linor. Karena itulah Linor sudah bersiap-siap dan mengamankan semuanya. Ia hanya meninggalkan barang-barang yang samasekali tidak akan membuat pihaki keamanan curiga.
Setelah meletakkan kopernya di tempat yang hanya ia yang tahu, Linor akan langsung terbang ke Kiev, ibu kota Ukraina?! Sudah tiga kali ibunya memintanya untuk datang. Ia tidak memberitahu Ben Solomon bahwa dirinya terbang ke Kiev. Ia hanya minta izin saat peristiwa pengeboman itu terjadi. Ya, saat bom mengguncang Mokswa ia akan berada di luar jauh sana. Ia baru akan
ke Moskwa ketika Ayyas sudah dipenjara-dan ia akan menjenguk anak muda itu di saat anak muda itu terlihat putus asa dengan nasibnya. Barulah ia akan mengatakan kepadanya, "Inilah pembalasanku!"

***

Di ruang Profesor Tomskii, nampak Doktor Anastasia sedang sibuk di depan laptopnya. Ia sedang sibuk mengakses data ke beberapa perpustakaan di dunia. Data-data itu ada yang bisa dia download, atau dia copy, ada juga yang sifatnya hanya bisa ia baca. Ia sedang sibuk mendownload dan sesekali menulis beberapa hal penting dari data yang hanya bisa ia baca.
Meskipun sibuk seperti itu, ternyata konsentrasi Doktor Anastasia sebenarnya tidak sepenuhnya pada data-data yang sedang ia kumpulkan.
Sebagian pikirannya terus tidak lepas dari Ayyas.
Siang itu adalah batas waktu dia harus member jawaban kepada pihak stasiun televisi tentang kesediaan Ayyas dan dirinya. Untuk dirinya tidak ada masalah, dia jelas bersedia. Sedangkan untuk Ayyas, ia tidak tahu. Tidak ada kabar dari Ayyas. Ia yakin ibu-ibu tua yang ada di apartemen Ayyas itu pasti menyampaikan pesannya kepada Ayyas.
Jika pihak stasiun televisi menelponnya ia akan mencoba minta tambahan waktu sampai malam. Pagi-pagi sekali ia akan memberi kabar.
Ia sudah mengambil keputusan bulat, jika sampai sore Ayyas tidak juga memberi kabar dan tidak juga datang, ia akan kembali mendatangi apartemen
Ayyas. Jika bertemu di sana, dia bersyukur.
Jika ternyata Ayyas tidak ada di apartemen, ia akan menunggu sampai Ayyas pulang.
"Doktor Anastasia, apa kabar?" Seseorang menyapanya. Karena kedua matanya tertuju sepenuhnya pada layar laptop, dan pikirannya mengembara ke mana-mana, Anastasia Sama sekali tidak sadar kalau ada seseorang memasuki ruangan itu dan kini orang itu telah berdiri tak jauh di hadapannya. Dokter Anastasia mengangkat pandangannya dan ia terkesima seketika.
"Oh kau!" Kata Doktor Anastasia Palazzo setengah tidak percaya.
"Ya. Kenapa Doktor seperti kaget begitu?" Jawab orang itu dengan tenang, yang tak lain adalah Muhammad Ayyas.
"Aku kira kau tidak akan datang lagi? Aku kira kau sudah pulang ke Indonesia atau ke India?" Doktor Anastasia Palazzo menjawab sekenanya.
"Di mana saja kau selama ini? Kau tidak memberi kabar, tidak sms, juga tidak menelpon. Ditelpon tidak bisa, disms tidak dibalas. Ada apa denganmu?" Lanjut Anastasia sambil bangkit dari tempat duduknya. Doktor muda itu Nampak bahagia dengan kedatangan Ayyas.
"Maafkan saya Doktor, agak lama saya tidak memberi kabar, saya ada sedikit masalah."
"Masalah apa?"
"Saya sedang marah kepada seseorang."
"Marah kepada seseorang? Apa hubungannya dengan kehadiranmu ke sini?"
"Sangat berhubungan. Sebab, terus terang saja, saya marah pada Anda, Doktor?"
"Marah pada saya? Apa yang saya lakukan sehingga membuatmu marah?"
"Anda telah berlaku tidak patut pada saya."
"Apa itu? Saya tidak paham."
"Anda telah mencium saya dengan semena-mena."
"Jadi karena ciuman itu?!" Anastasia kaget.
"Ya."
"Itu biasa saja. Aku pikir kau suka."
"Aku tidak mau mendapat ciuman dari perempuan yang tidak halal bagi saya. Anda bukan siapa-siapa saya. Bukan ibu saya, bukan kakak saya, dan bukan adik saya. Anda tidak halal bagi saya. Anda tidak boleh mencium saya. Dan saya tidak boleh mencium Anda. Kalau Anda mencium saya atau saya mencium Anda, kita telah menodai kesucian diri kita. Kita telah melakukan
dosa. Itu ajaran agama saya."
"Kalau istri mencium suaminya?"
"Boleh. Halal. Bahkan mendatangkan pahala dari Tuhan."
"Maafkan aku kalau begitu. Aku tidak tahu. Aku tidak akan mengulanginya, kecuali nanti kalau aku suatu saat halal bagimu." Kata Doktor Anastasia Palazzo pelan.
Hati Ayyas bergetar mendengar kata-kata Doktor Anastasia Palazzo. Kalimat terakhirlah yang membuat hatinya bergetar. Seolah doctor cantik itu berharap, suatu saat akan menjadi perempuan yang halal baginya.
"Baiklah. Kita lupakan saja yang sudah berlalu. Sekarang kalau boleh saya mau tanya, apa benar kemarin petang Doktor mendatangi apartemen saya? Dan berpesan pada Bibi Margareta ada sesuatu yang penting yang ingin Doktor
sampaikan kepada saya?"
"Benar. Aku datang ke sana, karena aku tidak menemukan cara lain untuk menghubungimu. Memang ada hal sangat penting yang ingin aku sampaikan. Ada stasiun televisi yang mengundang kita. Mengundang aku dan kamu untuk talk show di acara 'Rusia Berbicara' untuk membincangkan masalah ketuhanan seperti yang ada di seminar itu. Dua hari lagi acaranya. Kau bisa
ya?"
"Menurut Doktor saya harus bagaimana?"
"Datang. Nanti bersama saya."
"Si Viktor Murasov yang pembeo Nietzsche itu datang juga?
"Mungkin. Saya tidak tahu persis. Yang jelas kita berdua diundang untuk jadi narasumber."
"Baiklah Doktor. Saya siap."
"Terima kasih. Saya senang sekali. Saya akan langsung memberitahu Direktur Programnya."
"Itu acaranya pagi, atau sore, siang atau malam?"
"Kalau tidak salah siang. Tepat pas waktu makan siang. Nanti saya pastikan."
"Baiklah."
"Ini sudah saatnya makan siang. Kau mau aku traktir makan siang di stolovaya?” Tanya Anastasia dengan mata berbinar.
"Tidak. Terima kasih Doktor. Saya masih kenyang. Sebelum ke sini tadi saya baru makan di KBRI. Saya mau pesan teh panas pada Bibi Parlova saja."
"O begitu. Kalau begitu biar saya yang pesan pada Bibi Parlova. Kau duduk saja dan bisa mulai melanjutkan penelitianmu."
"Baik. Terima kasih Doktor." Ayyas heran dengan sikap Anastasia yang begitu ramah padanya melebihi biasanya. Doktor itu bahkan sampai meladeninya memesankan teh panas pada Bibi Parlova. Apakah benar ledekan Yelena itu?
Ia jadi ingat setelah ia panjang lebar menjelaskan tentang jenis-jenis atheisme, Yelena berkomentar,
"Penjelasanmu runtut dan memahamkan. Bahkan bisa membuat orang terpana. Wajar kalau pembicara yang di sampingmu yang cantik itu sampai menciummu begitu kau selesai berbicara. Kelihatannya dia jatuh cinta padamu. Siapa namanya? Anastasia...?"
Apakah sikap Anastasia itu adalah tanda-tanda bahwa dia jatuh cinta padanya?
Ayyas beristighfar. Ia memohon kepada Allah agar dirinya dilindungi dari godaan setan yang terkutuk. Juga memohon kepada Allah agar dilindungi dari godaan perempuan yang sering membuat tak berdaya kaum lelaki di mana saja.
Ia merasa, setelah lolos dari sergapan setan melalui Linor, ujian berat berikutnya nampaknya akan datang melalui Anastasia Palazzo yang tak kalah jelita dan menariknya.

***

Salju baru berhenti turun ketika Linor tiba di Bandara Internasional Boryspil. Hanya masih ada satu dua butir salju yang jatuh melayang dari langit. Linor langsung menaiki FM Taxi begitu keluar dari bandara. Hari mulai gelap. FM Taxi itu meluncur ke utara menuju tengah kota Kiev yang jaraknya tidak kurang dari 40 km dari Boryspil.
Linor tidak menuju Sunflowe B&B Hotel seperti yang disarankan oleh Yelena. Hotel model itu kurang cocok untuk seorang agen seperti dirinya.
Ia lebih suka untuk meletakkan tasnya di Shreborne Guest House yang letaknya tak jauh dari stasiun metro Arsenalna, dan dari sungai Dnipro yang ada di sisi timur kota Kiev.
Tujuan Linor terbang ke ibu kota Ukraina bukan untuk menginap di hotel, atau untuk sebuah operasi intelijen. Sama sekali tidak. Tujuan sebenarnya adalah untuk menemui ibunya yang sudah hampir satu tahun tidak bertemu
dengannya. Untuk menemui ibunya ia tidak mau ada satu agen pun yang tahu, termasuk Ben Solomon.
Ia memiliki lima paspor dari lima Negara dengan nama yang berbeda-beda, identitas yang berbeda dan wajah yang sedikit berbeda. Agen yang lain tahunya ia memiliki empat paspor, termasuk paspor Rusia. Ada satu paspor yang sangat ia rahasiakan, dan itu adalah paspor yang kini ia gunakan untuk memasuki Ukraina untuk menemui ibunya. Jika di paspor Rusia namanya adalah Linor dan ia juga memiliki ID Card resmi dari Pemerintah Rusia dengan nama Linor, maka untuk paspor yang ia gunakan memasuki Ukraina ia memilih nama Sofia Corsova, berkebangsaan Belarusia.
Sofia adalah nama yang diberikan oleh ibunya untuknya. Dan Corsov adalah nama kakeknya, ayah ibunya. Nama ibunya sendiri sesungguhnya adalah Ekaterina, yang lahir di kota Ratomka, Belarusia. Lengkapnya Ekaterina Corsova Fyodorovna. Tetapi oleh ayahnya nama ibunya itu diganti menjadi Shim'ona Jelinek agar lebih Nampak kental Yahudinya.
Nama ayahnya sendiri adalah Eber Jelinek. Dan namanya sendiri yang ada di dokumen sejak kecil adalah Sarah Jelinek. Itu namanya yangsebenarnya, karena itu adalah nama pemberian ayahnya dan mengikut kepada nama keluarga ayahnya. Dari lima paspor yang ia miliki, salah satunya memakai nama Sarah Jelinek, berkebangsaan Polandia.
Jadi dari data dan realitas yang ia tahu, meskipun sejak usia dua belas tahun ia hidup di Moskwa dan hidup sebagai orang Rusia sertadiakui sebagai warga Rusia, ia sesungguhnyaadalah berdarah Belarusia dan Polandia. Tepatnya berdarah Yahudi Belarusia dan Polandia.
Ayahnya sering mengatakan, kalau darah ayahnya adalah Yahudi tulen yang masih terjaga darah ras Yahudinya. Dan karena ayahnya adalah Yahudi tulen ia sangat bangga menjadi anak ayahnya yang dengan sendirinya berarti ia Yahudi tulen. Ia merasa menjadi manusia paling beruntung karena ditakdirkan menjadi Yahudi,yang menurut para rabi dan para hakhom, Yahudi
adalah manusia pilihan Tuhan di atas muka bumi ini.
Setelah istirahat sebentar di kamar eksekutif Shreborne Guest House, Linor menghubungi penyewaan mobil. Ia menyewa mobil sedan hitam untuk beberapa hari. Malam itu juga ia meluncur ke arah selatan, meninggalkan kota Kiev.
Ia mengendarai mobil sedan hitam itu menuju sebuah kawasan Pyrohovo yang terletak delapan kilometer dari kota Kiev.
Sampai di Pyrohovo Linor membawa mobilnya memasuki jalan Horodotska. Ia mencariapartemen bernuansa Romawi. Tak lama kemudian ia menemukan apartemen itu. Perlahan ia mengarahkan mobilnya memasuki tempat parkir dan ia langsung menuju lantai tujuh. Tepat di depan pintu 7011 Linor menelpon ibunya. Ketika ibunya menanyakan di mana keberadaannya, Linor mengatakan,
"Mama, bukalah pintu, aku berada tepat di depan pintu apartemen Mama."
Pintu terbuka. Seorang perempuan yang belum begitu tua muncul dari balik pintu. Sebagian rambut perempuan tua itu telah memutih, tetapi kulit wajahnya masih segar. Hidungnya mancung, dan tatapan matanya tajam. Perempuan itu langsung membuka tangannya lebar-lebar sambil tersenyum. Linor menghambur ke pelukannya dengan hati damai. Kini ia merasa damai
dalam dekapan ibunya.
Dulu saat masih remaja, ia selalu ingin lepas dari ibunya, juga dari ayahnya. Setelah ia lepas dan benar-benar hidup bebas, ia sering merasa hatinya gelisah entah kenapa. Dan dalam dekapan ibunya selalu merasa tenang. Seolah-olah dada ibunya itu telah menyedot seluruh gelisahnya.
Setelah ayahnya meninggal dua tahun lalu karena terkena kanker liver, ibunya hidup sendiri.
Ia memilih hidup di desa yang pernah menjadi kenangan ibunya waktu remaja. Yaitu desa Pyrohovo, yang berada di pinggir selatan ibu kota Ukraina. Menurut cerita ibunya sendiri, ibunya memang lahir di Ratomka, Belarusia, tahun 1957.
Kakeknya adalah seorang dokter gigi yang bekerja pada dinas kesehatan pemerintah. Sebenarnya, kakeknya mengawali kariernya di Minsk, tetapi dalam perkembangan kariernya, dia ditugaskan di Ratomka sebagai ketua pengawas kesehatan di kota itu. Dalam kondisi yang cukup baik itulah ibunya dilahirkan.
Kakeknya orang Belarusia biasa yang pada waktu muda dulu belajar ilmu kedokteran di Universitas Negeri Moskwa. Neneknyalah yang masih memiliki aliran darah Yahudi. Neneknya, konon, termasuk Yahudi yang melarikan diri dari Polandia dan bisa sampai di Moskwa dengan selamat ketika PD II berkecamuk dengan sengitnya.
Di Moskwa itulah neneknya bertemu dengan kakeknya. Selanjutnya neneknya menikah dengan kakeknya, dan terus ikut kakeknya ke mana pun kakeknya pergi dan di mana pun kakeknya berada.
Dari pernikahan kakek dan neneknya itu lahirlah ibunya yang diberi nama Ekaterina. Dan tiga tahun berikutnya, lahirlah bibinya yang diberi nama Agneszka. Mereka berdua lahir di Ratomka, tapi kemudian besar di Pyrohovo.
Menurut cerita ibunya, ketika ibunya memasuki usia sebelas tahun, kakeknya pindah ke Ukraina karena adanya perselisihan yang serius dengan pegawai dinas kesehatan kota Ratomka yang lain.
Kakeknya tidak bisa tenang dengan perselisihan itu, akhirnya memilih pindah ke Ukraina. Kakeknya langsung mendapat kepercayaan memimpin sebuah klinik kesehatan di Kiev, tetapi kakeknya memilih tinggal di luar kota Kiev. Tepatnya di desa Pyrohovo. Sejak itu kakek, nenek, ibu dan bibinya tinggal di desa Pyrohovo. Ibu dan bibinya berkembang dan menghabiskan masa
remajanya di desa itu.
Sayangnya rumah yang dulu ditempati ibunya ketika masa remaja sudah dijual oleh kakeknya sebelum meninggal. Dan kini rumah itu sudah diratakan dengan tanah. Di atasnya telah di bangun toko swalayan serba ada, semacam universam kalau di Moskwa.
Akhirnya ibunya memilih tinggal di apartemen di jalan Horodotska. Apartemen itu ayahnya yang membelikan, tapi diatasnamakan seorang nenek tua penduduk Pyrohovo yang miskin dan hidup sebatang kara. Nenek itu bernama Natasha, dan kini tinggal berdua dengan ibunya. Ayahnya sudah menyegel bahwa begitu Natasha meninggal, maka secara otomatis apartemen itu menjadi milik ibunya yang dalam segel itu dianggap sebagai satu-satunya pewaris nenek yang hidup sebatang kara itu.
Ayahnya sampai melakukan hal rumit seperti itu demi mengamankan ibunya dari musuh-musuh ayahnya yang tidak sedikit. Ayahnya ingin agar ibunya dan segala yang dimiliki oleh ibunya tidak terlacak oleh para intelijen mana pun. Setelah ayahnya meninggal, ibunya langsung menghilang dari peredaran. Teman-teman ayahnya di Moskwa bahkan tidak tahu di mana ibunya berada. Banyak yang beranggapan ibunya juga telah meninggal bunuh diri karena frustasi.
Padahal ibunya kini hidup tenang di daerah Pyrohovo dengan harta peninggalan ayahnya yang melimpah.
"Kau selalu mengejutkan Mama." Kata Madame Ekaterina dengan mata berkaca-kaca karena terharu bahagia. Madame Ekaterina mengendorkan pelukannya tapi kedua tangannya yang mulai keriput itu memegang kepala Linor dan menghadapkan ke wajahnya dengan penuh lembut.
"Aku ingin membuat Mama terkejut bahagia." Jawab Linor sambil menatap mata ibunya dengan penuh cinta.
"Dan kau sudah berhasil melakukannya."
"Mama sehat-sehat saja?"
"Ya. Seperti yang kau lihat. Kau sendiri bagaimana, Anakku?"
"Linor baik-baik saja, Mama."
"Ah kenapa masih juga kau pakai nama itu. Mama lebih suka kau memakai nama Sofia."
"Baiklah kalau bersama Mama, aku akan memakai nama Sofia." Kata Linor halus. Perangainya sangat berbeda ketikal bersama orang lain. Biasanya Linor selalu dingin dan kelihatan! tidak peduli. Tetapi kepada ibunya Linor begitu
lembut dan J penuh perhatian.
Mereka berdua masuk ke dalam apartemen dan menutup pintu. Ruang tamu apartemen itu bernuansa Rusia klasik nanl mewah. Dindingnya berwarna putih gading. Langit-langitnya berhias ukiran khas Rusia yang berwarna keemasan.
Lampu kristal yang indah menggantung di tengah ruangan. Jendela j yang tertutup rapat dihiasi gorden yang indah dari sutra yang disulam dengan benang-benang emas. Siapa pun yang memasuki ruang tamu itu akan merasa berada di salah satu ruang pembesar kekaisaran Rusia abad delapan belas. Itu juga yang dirasakan oleh Linor.
"Istirahatlah di kamarmu. Mama sudah mempersiapkannya sejak memintamu datang. Istirahatlah dulu. Nanti akan Mama panggil untuk makan malam bersama."
"Baik Mama."
Linor langsung melangkah memasuki sebuah kamar yang cukup besar. Itu adalah kamarnya.
Sudah beberapa kali ia tidur di kamar itu sejak ibunya memutuskan untuk menghabiskan masa tua di daerah Pyrohovo yang terletak di pinggir kota Kiev itu. Linor merebahkan tubuhnya ke kasur empuk. Tubuhnya terasa begitu dimanja oleh kenyamanan kasur itu. Ia hampir terlelap, ia teringat untuk mandi dengan air hangat.
Sudah tiga hari ia tidak mandi. Tidak mandi beberapa hari adalah hal yang biasa ia lakukan di musim dingin. Ia merasa cukup dengan membersihkan muka dan memakai bedak penyegar untuk tubuhnya, serta parfum tubuh untuk pengharum. Itu sudah cukup. Tetapi setelah tiga hari tidak mandi ia merasa harus mandi agar tubuh terasa lebih segar. Maka Linor pun hanyut dalam kenikmatan belaian air hangat yang kesegarannya dapat ia rasakan sampai ke seluruh tulang-tulang tubuhnya.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Madame Ekaterina memanggilnya untuk makan malam.
Linor menuju meja makan dengan nafsu makan yang menyala. Ibunya sudah duduk menunggu, juga seorang perempuan yang sudah renta bernama Natasha.
Di atas meja nampak roti Ukraina yang masih hangat. Di sampingnya ada sup jamur, ada juga pay isi daging kelinci yang juga masih hangat dan potongan-potongan keju keras yang ditaburi merica ala Italia. Menu makan malam itu
dilengkapi salad yang terdiri atas pelbagai jenis sayuran dan buah yang dicampur dengan minyak Zaitun yang harum. Linor juga mencium aroma
segar teh Long Jing. Teh termahal di dunia yang dipetik dari perkebunan teh Long Jing di daerah Hang Zhou, China.
Ibunya memang memiliki selera minum the yang sangat tinggi. Ia punya daftar puluhan jenis teh paling enak di dunia. Selain teh Long Jing,
teh paling enak di atas muka bumi ini adalah teh hijau dari perkebunan teh Solok, Sumatera Barat, Indonesia. Ibunya biasa mendapatkan teh itu tidak dari Indonesia, tapi justru dari Amsterdam, Belanda.
Linor makan malam dengan sangat bersemangat.
Ia menyantap habis pay isi daging kelinci yang masih hangat itu. Pay buatan ibunya itu memang salah satu makanan kesukaannya sejak kecil. Sup jamur yang masih panas itu membuat badannya terasa hangat. Dan kehangatan itu
disempurnakan oleh segarnya teh Long Jing.
Madam Ekaterina, nampak sangat bahagia melihat Linor makan seumpama orang yang berhari-hari tidak makan. Hampir semua hidangan yang tersaji di atas meja, Linorlah yang menyantapnya.
Setelah makan malam, Madame Ekaterina Corsova Fyodorovna mengajak Linor ke kamarnya yang luas. Kamar itu tertata dengan sangat mengagumkan. Tiga tirai keemasan melindungi jendela-jendela kaca-gandanya.
Langit-langitnya dihiasi ornamen keemasan. Di salah satu dindingnya nampak rak buku yang membuat kamar itu jika dilihat dari sudut itu, seumpama perpustakaan yang memiliki koleksi buku klasik dan kontemporer sama banyaknya.
Di atas tempat tidur yang nampak elegan itu ada lukisan besar cat minyak yang menghidupkan kamar mewah itu. Yaitu lukisan bunga mawar putih yang begitu segar. Jika dilihat dari jarak agak jauh sambil sedikit melangkahkan kaki, bunga mawar itu bisa nampak seperti bergerak pelan seperti tertiup angin.
Madame Ekaterina meminta Linor duduk di sofa yang empuk. Sofa itu menghadap ke layar televisi flat yang sangat besar. Madame Ekaterina
duduk dengan tenang. Ia memandangi Linor yang malam itu nampak sangat anggun dalam balutan gaun merah tua berlengan panjang yang Nampak klasik sekaligus modern.
"Kau semakin cantik, Anakku." Puji Madame Ekaterina sambil tersenyum pada Linor.
"Karena Mama cantik."
"Jadi kau merasa cantik karena kecantikanmu itu menurun dari Mama?"
“Iya.”
"Apa kau masih lelah, Anakku?"
"Tidak Mama. Rasa lelah itu sudah hilang begitu Sofia bertemu Mama." Linor sudah menyebut dirinya sebagai Sofia. Nama yang dicintai oleh ibunya.
"Bolehkah Mama mengajakmu bicara panjang lebar sampai larut malam?"
"Dengan senang hati Mama."
"Aku ingin kau mengetahui siapa kau sebenarnya?"
"Mengetahui siapa aku sebenarnya? Apa maksud Mama?"
"Mama merasa ini sudah waktunya. Kau harus tahu siapa kau sebenarnya, sehingga kau benar-benar akan mendapatkan kemerdekaanmu yang sebenarnya. Mama ingin kau benar-benar merdeka menentukan jalan hidupmu, setelah kau mengetahui jatidirimu yang sesungguhnya. Mama tidak ingin kau dijajah oleh siapapun dan apapun, termasuk dijajah oleh kenyataan yang selama ini Mama tutup rapat-rapat darimu." Madame Ekaterina bangkit menuju layar televisi.
"Tetap duduklah di situ. Mama ingin kau melihat dokumen sejarah ini." Kata Madame Ekaterina sambil membuka rak kaca berisi kaset-kaset video.
Tak berapa lama Madame Eketerina sudah berhasil memutar sebuah kaset dengan pemutar kaset video yang terletak di bawah layar televise yang lebar itu. Di layar nampak keterangan yang menjelaskan bahwa video itu adalah dokumen sejarah nyata yang direkam oleh seorang wartawan dari Kanada. Lalu keluarlah judul "Dokumentasi Pembantaian Sabra dan Shatila 1982."
"Apa hubungan diriku dengan pembantaian Sabra dan Shatila?" Tanya Linor agak penasaran.
"Duduklah dan lihatlah dengan baik-baik. Nanti Mama akan jelaskan semuanya."
Dilayar kaca nampak dari jarak yang agak jauh, seorang tentara berseragam hijau menembak tubuh seorang anak kecil yang tangan dan kakinya terikat dengan kabel listrik. Terakhir tentara itu memecahkan kepala anak kecil itu
dengan senjata otomatisnya. Kamera kemudian mengambil middle close up dari dada hingga muka anak kecil itu. Layar kaca itu seperti merahkehitaman. Muka itu sudah tidak berbentuk.
Sepenuhnya darah. Benar-benar hancur. Kamera lalu bergerak menyusuri jalan. Tertulis di layar, itu adalah sebuah jalan di Sabra. Di jalan itu terlihat mayat-mayat bergelimpangan dan bertumpuk-tumpuk. Lalu nampak mayat seorang pria tua. Ia mengenakan baju panjang berwarna cokelat muda dan kopiah putih. Pria tua itu ditembak di kepalanya dan kedua matanya telah
dicungkil.
Di layar kaca kemudian nampak rumah-rumah yang dirobohkan, bangunan-bangunan yang hancur, puing-puing, wajah-wajah yang ketakutan, dan seorang perempuan muda yang membawa bayi dengan wajah putus asa. Dua orang tentara mendekati perempuan muda itu dan merebut bayinya. Perempuan muda itu mati-matian mempertahankan bayinya. Tetapi beberapa detik kemudian darah muncrat dari jilbab putih yang menutupi kepalanya. Beberapa butir peluru menembus kepalanya. Bayinya juga mengalami nasib
yang sama. Mayat perempuan muda dan anaknya itu tergeletak begitu saja di pinggir jalan.
Adegan penembakan lainnya di jalan utama kamp Sabra dan Shatila terekam jelas. Kemudiam nampak di layar kaca tumpukan mayat terlihat di kedua sisi jalan. Lalu nampak mayat-mayat yang tergeletak di gang-gang kecil di kamp, mayat-mayat yang ditumpuk di atas mayat-mayat lainnya, tubuh-tubuh yang terpotong, dengan tangan-tangan yang terlepas, tubuh-tubuh yang membusuk dan membengkak yang pastinya telah mati sehari atau dua hari sebelumnya.
Kamera kemudian mengambil close up mayat seorang perempuan muda setengah telanjang yang berlumuran darah. Kerudung putih penutup kepalanya lepas tak jauh dari tubuh. Gamisnya nampak terkoyak-koyak. Perutnya sobek, dan isinya terurai. Dahinya nampak lebam oleh pukulan benda keras. Yang membuat bulu kuduk tambah berdiri dada perempuan itu rusak, payudaranya seperti disayat-sayat sampai hancur.
Melihat pemandangan itu, Linor yang biasanya dingin . dan sering tidak memiliki rasa kasihan kepada korban yang harus dibunuhnya, kali ini Linor merasakan kengerian dalam dirinya. Ia tidak bisa membayangkan kalau hal itu terjadi pada dirinya.
Di layar kemudian nampak mayat-mayat yang tangan dan kakinya diikat dengan kabel listrik dan mayat-mayat yang dipenuhi tanda bekas habis dipukuli sebelum akhirnya dibunuh. Mayat anak-anak, bocah perempuan dan laki-laki serta wanita dan pria yang sudah renta. Beberapa mayat masih digenangi merahnya darah, lainnya tergenang dalam cairan darah yang kecoklatan, bahkan menghitam.
Dan kembali nampak mayat-mayat wanita yang bajunya terlepas dari dari tubuhnya, tetapi kondisi tubuhnya terlalu rusak sehingga susah untuk mengatakan apakah mereka habis diperkosa atau disiksa sampai mati.
Linor kembali merasakan kengerian menyusup ke dalam hatinya.
 Layar kaca kemudian menampilkan sebuah stadion yang dipenuhi mayat yang bertumpuk-tumpuk dan bergelimpangan. Di sekitar stadion nampak banyak pakaian wanita. Kamera lalu mengambil close up beberapa mayat wanita yang binasa tanpa pakaian. Lalu nampaklah seorang lelaki setengah baya yang wajahnya mengguratkan ketakutan, kecemasan sekaligus
kemarahan. Orang setengah baya itu adalah orang Libanon yang tinggal di dekat Sabra dan Shatila yang selamat dari pembantaian. Dengan marah lelaki setengah baya itu memberikan kesaksian bahwa banyak wanita dipaksa bertelanjang bulat, lalu diperkosa para tentara sebelum akhirnya dibunuh.
Setelah itu nampak seorang wanita Libanon yang selamat dari pembantaian. Ia memperlihatkan rumahnya yang sebagian telah hancur, dan memberikan sebuah kesaksian, bahwa ia tinggal dekat stadion itu dan dari tempat persembunyiannya ia dapat melihat apa yang terjadi. Ia merasa geram karena ada manusia yang tega berbuat seperti itu kepada sesamanya, la mengakhiri
kesaksiannya seraya berteriak, "Jangan sampai ada lagi! Bahkan seorang nenek tujuh puluh tahun pun diperkosa tanpa ampun dan dibunuh dengan kejam."
Wanita itu gemetaran saking marahnya. Linor ikut gemetar. Dan Madame Ekaterina sejak awal telah meneteskan airmata karena sedih yang luar biasa. Perempuan yang rambutnya sudah memutih itu seolah-olah kembali berada di tengah-tengah kamp Sabra dan Shatila yang mencekam.
Ia seolah-olah kembali mencium anyir darah.
Ia kembali teringat ketika seorang wanita tua Libanon menyerahkan seorang bayi kepadanya untuk diselamatkan. Ia diminta untuk membawa pergi sejauh-jauhnya dari Sabra dan Shatila.
"Bawalah pergi, selamatkanlah nyawanya. Ibunya telah diambil para milisi itu. Bawalah dia, aku percayakan padamu. Cepatlah pergi, tak ada waktu lagi. Tak lama lagi milisi-milisi itu akan kembali mengadakan operasi. Mungkin akan tiba giliranku menyusul saudara-saudaraku yang telah terbunuh. Cepat bawalah bayi ini pergi. Hanya pintaku, suatu saat tolong beritahu dirinya, siapa sesungguhnya dirinya. Dirinya adalah orang Palestina. Ibunya Palestina. Ayahnya orang Libanon. Ayah dan ibunya sudah gugur bertemu Allah di kamp Sabra dan Shatila."
Kata-kata wanita tua Libanon itu kembali terngiang-ngiang di telinganya. Seolah-olah ia baru saja mendengarnya. Madame Ekaterina tiba-tiba terisak-isak, airmatanya meleleh. Linor melihat sesuatu yang tidak biasanya pada ibunya.
Tidak biasanya ibunya menangis menyaksikan orang-orang Palestina dibantai. Meskipun ibunya tidak pernah ikut membantai, tetapi selama ini ia
tahu ibunya selalu mendukung ayahnya yang sering melakukan operasi intelijen untuk kepentingan Israel.
Berkali-kali ayahnya menjadi dalang pembunuhan siapa saja yang mendukung perjuangan orang Palestina, dan ibunya tahu itu. Tapi ibunya tidak pernah menangis. Ibunya selama ini, sepengetahuan dirinya selalu mendukung ayahnya.
Tetapi kenapa kali ini menyaksikan pembantaian Sabra dan Shatila ibunya menangis. Kenapa?
"Ibu menangisi apa? Menangisi orang-orang Palestina yang mati itu?" Tanya Linor dengan ekspresi dingin.
"Anakku, cobalah kau putar ulang bagian perempuan muda yang gamisnya terkoyak-koyak, payudaranya hancur tersayat-sayat tak berbentuk, perutnya sobek, dan isinya terurai. Cobalah putar ulang di bagian itu, Anakku." Kata Madame Ekaterina pelan.
Linor beranjak dari duduknya dan memenuhi permintaan ibunya. Ia memutar balik kaset video itu. Kemudian ia kembali memutar adegan pembantaian Sabra dan Shatila. Di layar kaca yang lebar itu langsung nampak gambar yang
mengerikan. Mayat-mayat yang tergeletak di gang-gang kecil di kamp, mayat-mayat yang ditumpuk di atas mayat-mayat lainnya, tubuh-tubuh yang terpotong, dengan tangan-tangan yang terlepas, tubuh-tubuh yang membusuk dan membengkak yang pastinya telah mati sehari atau dua
hari sebelumnya.
Lalu nampak mayat seorang perempuan muda setengah telanjang yang berlumuran darah. Kerudung putih penutup kepalanya lepas tak jauh dari
tubuh. Gamisnya nampak terkoyak-koyak. Perutnya sobek, dan isinya terurai. Dahinya Nampak lebam oleh pukulan benda keras. Yang membuat bulu kuduk tambah berdiri, dada perempuan itu rusak, payudaranya seperti disayat-sayat sampai hancur. Kamera meng-close up mayat perempuan muda yang mati dengan cara sangat mengenaskan itu dengan sangat jelas. Siapa pun yang
menyaksikan gambar itu, jika masih memiliki hati dan nurani yang sehat pasti akan merinding dan gemetar karena dicekam rasa ngeri sekaligus marah, marah sekaligus ngeri. Bagaimana mungkin ada manusia yang tega melakukan
tindakan yang sedemikian keji kepada sesama manusia.
"Tolong dï-pause, Anakku!" Kata Madame Ekaterina kepada Linor. Di layar kaca Nampak gambar midle close up perempuan itu dari dadanya yang rusak sampai kepalanya. Dahinya lebam membiru. Mata kanannya seperti telah dicukil.
Ada darah mengalir di pojok bibirnya. Pipinya kotor oleh tanah dan bercak darah. Rambutnya yang pirang kecoklatan nampak awut-awutan. Jilbabnya lepas tak jauh dari kepalanya.
"Lihatlah gambar perempuan yang mati dengan sangat tragis itu, Anakku! Apa yang kau rasakan, Anakku?" bibir Madame Ekaterina bergetar, airmatanya meleleh.
"Aku tidak merasakan apa-apa Mama." Jawab Linor dingin.
"Kau tidak merasakan apa-apa? Tidak ada sedikit pun di hatimu rasa kasihan? Atau rasa marah pada orang yang berbuat keji pada perempuan itu?!" Sahut Madame Ekaterina dengan mata menyala.
"Tidak perlu kasihan. Kenapa harus kasihan pada orang bodoh seperti perempuan Palestina itu?" Jawab Linor sinis.
Airmata Madame Ekaterina meleleh semakin deras. Ingin rasanya ia menampar muka Linor sejadi-jadinya dan memarahi Linor semarah-marahnya, tetapi ia segera sadar bahwa Linor sedemikian benci pada orang Palestina karena memang selama ini dia didoktrin untuk itu. Bukankah Linor kini adalah agen rahasia Israel?
"Anakku Linor, bukan salahmu kalau kau sangat tidak menyukai orang Palestina. Tetapi Mama minta cobalah kaulihat baik-baik perempuan yang ada di layar kaca itu. Lihatlah baik-baik. Rasakanlah getaran-getaran halus nuranimu paling dalam. Tolong!"
Linor diam. Kedua matanya memandangi gambar perempuan Paletina yang mati mengenaskan itu. Sesaat lamanya Linor memandangi gambar itu. Hatinya sama sekali tidak tersentuh olehnya. Tak ada perubahan apa-apa di wajahnya.
Madame Ekaterina juga diam dengan airmata terus meleleh. Sesaat keheningan menyelimuti ruangan itu.
"Anakku." Suara Madame Ekaterina memecah kesunyian.
"Sebenarnya Mama ingin bercerita panjang kepadamu. Cerita nyata yang sangat penting untuk kau dengar. Tetapi kurasa kau perlu istirahat setelah perjalanan jauh. Istirahatlah di kamarmu. Mama juga perlu istirahat. Besok pagi setelah sarapan pagi, Mama akan bercerita kepadamu."
"Baiklah Mama."
"Hanya Mama minta, sebelum tidur bayangkanlah wajah perempuan yang ada di layar itu. Bayangkanlah meskipun cuma sekejap."
"Mama ini minta yang aneh-aneh. Kenapa aku harus membayangkan wajah perempuan itu? Kenapa tidak harus membayangkan wajah Mama saja?"
"Besok akan Mama ceritakan semuanya. Setelah Mama ceritakan semuanya, Mama berharap kau tidak lagi membenci perempuan yang kau lihat di layar kaca itu. Mama sangat berharap."
"Aku benar-benar tidak paham dengan apa yang Mama ucapkan. Tetapi baiklah aku akan menunggu sampai besok. Sampai Mama menceritakan
apa yang perlu Mama ceritakan. Dan aku tidak yakin bisa memenuhi harapan Mama."

"Mama sangat berharap."

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar