Sabtu, 16 Maret 2013

Bumi Cinta ( Part 31 )

Bumi Cinta
Karya : Habiburrahman El Shirazy

DILARANG COPY PASTE UNTUK TUJUAN KOMERSIAL !!!

31. Menemukan Yang Hilang

Sementara itu, di belahan bumi Allah yang lain, pada waktu bersamaan, saat Linor masih basah oleh airmata, Ayyas nampak bahagia. Ia merasa menemukan kembali dunianya yang selama ini hilang. Ia kembali merasa berjalan di jalan yang lapang. Meskipun lebih sederhana dan lebih sempit, apartemen Pak Joko terasa lebih nyaman dan lebih lapang bagi Ayyas. Ia merasa seumpama ikan yang kembali menemukan air yang jernih dan sehat. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak berada di Moskwa ia merasa tidur di tempat yang tepat.
Sejak sore Ayyas sudah resmi meninggalkan apartemennya di Panvilovsky Pereulok. Ia sudah pamit kepada Yelena dan Bibi Margareta. Hanya kepada Linor ia tidak sempat memberitahu. Ia merasa Linor sudah ada di Ukraina dan ia tidak perlu berpamitan padanya. Pada akhirnya nanti Linor juga akan tahu. Ia sudah nitip salam pada Yelena untuk Linor. Kepada mereka semua ia meminta maaf, jika selama berada di apartemen itu dan selama berinteraksi dengan mereka, mungkin dirinya melakukan banyak kesalahan.
Yelena sungguh-sungguh menahan Ayyas supaya tetap tinggal di apartemen itu. Bahkan Yelena tidak kuasa untuk menahan lelehan airmatanya.
Tetapi niat Ayyas sudah teguh dan bulat. Yelena minta kepada Ayyas untuk tetap bisa berkomunikasi dan bersahabat. Ayyas tidak keberatan.
Yelena dengan jujur mengatakan kebaikan Ayyas tidak akan terlupakan, dan ketulusan jiwa orang Indonesia akan terus dikenangnya.
Ketika Ayyas ditanya mau pindah ke mana. Ayyas hanya menjawab,
"Kalau ada perlu denganku kalian bisa sms aku atau datanglah ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Moskwa, di Novokuznetskaya Ulitsa. Kalau aku kebetulan tidak ada di sana, kalian bisa nitip pesan."
Bibi Margareta juga meneteskan airmata haru mengetahui Ayyas akan pindah.
"Entah kenapa, mekipun kebersamaan kita tidak lama aku merasa engkau telah menjadi bagian dari keluargaku, Malcishka (Panggilan penuh kasih sayang pada anak lelaki, lebih halus dari malcik). Ucap Bibi Margareta dengan penuh kasih sayang.
"Aku doakan semoga Tuhan selalu menyertai langkahmu, Malcishka."
Ayyas mengamini dalam hati. Ia menjelaskan kepada Yelena dan Bibi Margareta, bahwa kamarnya bisa ditempati oleh Bibi Margareta, tanpa harus mengganti uang sewanya. Ia berharap Yelena bisa menata hidupnya lebih baik
bersama Bibi Margareta yang kini telah dianggap sebagai ibunya sendiri oleh Yelena.
Dengan sekali angkut saja, barang-barang milik Ayyas sudah berpindah dari Panvilosky Pereulok yang berada di kawasan Smolenskaya ke Aptekarsky Pereulok yang berada di kawasan Baumanskaya. Jika sebelumnya Ayyas tinggal tepat di jantung kota, kini ia tinggal agak di pinggir kota, tepatnya agak jauh di sebelah timur jalan lingkar dalam. Jika sebelumnya ia tinggal di apartemen yang terkesan mewah, kini ia tinggal di gedung tua yang lebih sederhana. Tetapi ia merasa lebih bahagia.
Malam itu, Ayyas menata kamarnya. Apartemen itu hanya memiliki dua kamar dan satu kamar mandi bersama. Dapur menyatu dengan kamar tamu yang sekaligus jadi kamar keluarga.
Ayyas menempati kamar yang agak sempit, tiga meter kali dua setengah meter. Tempat tidurnya hanya cukup untuk satu orang saja.
Tetapi bagi Ayyas itu sudah sangat cukup. Yang paling penting adalah semua sarana vital di musim dingin di rumah itu berfungsi dengan baik.
Pemanas ruangan berfungsi, air tidak ada masalah, dapur berfungsi dengan baik. Itu sudah lebih dari cukup.
Ayyas menata kamarnya dengan hati gembira.
Ia mengatur ulang tata letak meja dan lemari kecil. Untuk posisi tempat tidur ia rasa sudah tepat. Tempat tidur itu sudah berada di posisi terbaiknya.
Setelah itu barulah ia menata pakaiannya ke dalam lemari. Dan menata beberapa bukunya di atas meja. Ia nyalakan laptop dan mencoba mengetik beberapa kalimat. Ia merasa nyaman. Sementara Ayyas sibuk di kamarnya, Pak Joko nampak asyik di ruang tamu memeriksa buku PR para siswa Sekolah Indonesia Moskwa.
Dengan sabar Pak Joko membaca dan meneliti kerjaan para muridnya. Satu per satu. Kalimat perkalimat. Terkadang ia mencoret. Terkadang menambahkan sesuatu. Dan terkadang membetulkan yang kurang betul. Tidak jarang ia member saran.
"Kita makan apa malam ini Pak Joko?" Kata Ayyas dari dalam kamarnya sambil memasukkan kopernya ke kolong tempat tidurnya.
"Setelah aku selesai memeriksa pekerjaan anak-anak, kita turun cari makanan. Di ujung timur Aptekarsky Pereulok ada restoran Pakistan. Kita makan di sana saja, bagaimana?"
"Mahal tidak Pak?"
"Biasa saja. Tidak mahal."
"Setuju kalau begitu." .
Setelah Pak Joko menyelesaikan tugasnya, ia memanggil Ayyas untuk mencari makan malam.
Mereka berjalan ke timur menyusuri Aptekarsky Pereulok. Udara dingin berhembus pelan. Pohon-pohon bereozka bergoyang, butir-butir salju terpelanting dari dahan dan rantingnya.
Kendaraan masih ramai berlalu lalang. Ponsel Ayyas berdering ketika mereka sudah berada di depan restoran.
"Ya. Siapa?"
"Ini Yelena." Jawab suara dari seberang.
"O ya ada apa?"
"Tas kamu ada yang ketinggalan ya?"
"Kurasa tidak."
"Ini di bawah kolong tidur kamarmu ada tas ransel hitam."
"Maaf aku tidak punya ras ransel hitam. Aku punya tas hitam, tapi bukan ransel. Tas hitam untuk laptopku dan untuk membawa beberapa buku."
"Jadi ini milik siapa?"
"Aku tidak tahu, apa mereknya?"
"Samsonite."
"Mungkin milik penghuni sebelum aku."
"Bisa jadi. Berarti sama dia sengaja ditinggal. Padahal masih bagus. Kalau begitu biar aku gunakan saja ya."
"Terserah kamu."
"Sekali lagi benar ini bukan milik kamu."
"Ya benar."
"Ini sedang aku buka tas itu. Isinya bukan buku. Isinya agak aneh. Ya ini pasti bukan milik kamu. Baik, terima kasih. Maaf mengganggu.".
"Salam buat Bibi Margareta."
"Ya pasti saya sampaikan. Spakoinoi Nochi (Selamat tidur/malam)“
"Aku belum mau tidur. Ini baru makan malam."
"Kalau begitu selamat makan."
Angin dingin kembali berhembus, kali ini agak kencang. Ayyas mengatupkan rahangnya kuat-kuat menahan dingin. Ia cepat-cepat bergegas memasuki restoran mengejar Pak Joko yang ada di depan. Malam itu Ayyas memilih makan dengan menu nasi Biryani, dengan lauk daging kambing, dan minum teh syahrazad yang lezat.

***

Pagi sekali sebelum matahari terbit Ayyas telah rapi. Dengan agak tergesa-gesa ia keluar dari apartemen dan berjalan menembus dinginnya udara pagi. Ia berjalan ke timur menyusuri Aptekarsky Pereulok, sampai di Baumanskaya
Ulitsa ia belok kanan. Jalan-jalan masih dipenuhi kabut yang cukup tebal. Para petugas pembersih salju masih ada yang bertugas di beberapa titik jalan. Sesekali Ayyas melihat jam tangannya. Ia telah terlambat dua menit. Ia mempercepat langkahnya.
Ayyas berjanji akan bertemu dengan Doktor Anastasia Palazzo di bawah lambang metro yang ada di dekat stasiun Baumanskaya. Tepatnya di bawah lambang metro yang ada di Baumanskaya Ulitsa, yang letaknya paling selatan. Setelah bertemu, Doktor Anastasia Palazzo akan membawanya ke stasiun televisi untuk menjadi pembicara dalam acara talk show "Rusia Berbicara"
yang akan disiarkan secara live.
Doktor Anastasia memberitahukan kepadanya, ada perubahan jam tayang talk show tersebut.
Yang biasanya tayang di siang hari jam satu siang sampai jam dua, kini diajukan di waktu pagi dari jam tujuh tiga puluh pagi sampai jam delapan tiga puluh. Dan satu jam sebelum acara dimulai, semua pembicara harus sudah ada di studio untuk persiapan.
Ayyas berjalan secepat yang ia mampu. Dari kejauhan nampak mobil Prado putih milik Doktor Anastasia sudah menunggu. Dua menit kemudian Ayyas sudah sampai. Doktor Anastasia mempersilakan Ayyas untuk masuk ke mobilnya dan duduk di sampingnya. Sekilas Ayyas melihat penampilanDoktor Anastasia yang nampak lebih segar dan lebih cantik dari biasanya. Ayyas merasabahwa doktor muda itu sangat memerhatikan penampilannya, sebab dia akan tampil di layar televisi yang disaksikan jutaan mata umat manusia.
Mobil bergerak ke utara, sebentar kemudian belok ke barat menyusuri Spartakovskaya Ulitsa, dan terus melaju ke barat melewati Staraya Brasmannaya Ulitsa, lalu belok kiri memasuki jalan lingkar Sadovoe Koltso. Doktor Anastasia mengendarai mobilnya dengan tenang dan anggun.
Ayyas merasakan aroma parfum yang dipakai Doktor Anastasia yang begitu segar. Mobil terus melaju ke selatan, memasuki kawasan Markistskaya, dan terus menyusuri lingkar dalam yang mulai miring ke arah timur. Sampai di kawasan Sepukhovskaya, Doktor Anastasia belok kiri, dan kembali mengambil jalan lurus ke selatan. Dan mobil itu akhirnya berhenti di sebuah gedung megah dan tinggi di daerah Nakhimovsky Prospekt.
"Ayo kita turun. Kita akan masuk ke salah satu studio milik televisi yang mengundang kita. Studio itu katanya ada di lantai empat belas."
Ucap Doktor Anastasia kepada Ayyas.
"Tema kita masih sama dengan seminar itu? Tidak ada perubahan?" Tanya Ayyas.
"Ya masih sama. Tetapi bisa jadi nanti pemandu acara akan memperlebar permasalahan. Atau akan ada respons dari pemirsa yang memperluas pembahasan. Kau siap kan?"
"Siap. Saya tidak perlu khawatir selama diskusi bersama Doktor Anastasia Palazzo."
"Kau selalu memuji."
"Benarkah? Aku merasa tidak memuji Doktor, kenapa Doktor merasa dipuji?"
Wajah Doktor Anastasia seketika memerah, ia berusaha mengendalikan diri.
"Sudahlah ayo kita masuk. Kita sudah ditunggu oleh Direktur Program."

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar